Bau menyengat itu sudah seperti tamu tak diundang bagi warga sekitar Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Sumbernya jelas: gunungan sampah yang terus menumpuk dan mengganggu pemandangan. Bukan cuma soal estetika, aromanya yang busuk menyebar jauh, menginvasi udara yang dihirup penduduk setiap hari.
Roni, seorang warga RT 03, mengaku sangat terganggu. Menurutnya, bau tak sedap itu bisa tercium hingga radius ratusan meter dari lokasi tumpukan.
Masalah ini, kata Roni, sama sekali bukan hal baru. Sudah berlangsung bertahun-tahun, bak siklus yang tak putus: dibersihkan sebentar, lalu menumpuk lagi, dan bau pun kembali menghantui.
Belakangan, kondisinya malah makin parah. Tumpukan sampah terlihat benar-benar menggunung, terutama saat pengangkutan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang mengalami kendala. “Alasannya kan TPA lagi macet. Ya, itu urusan pengelola pasar sih. Tapi yang nanggung dampaknya ya kami, warga sekitar,” jelasnya dengan nada kesal.
Bau busuk itu bahkan nekat menyusup masuk ke dalam rumah. “Asli, baunya sampai ke dalam-dalam. Sering kami komplain, ‘duh, ini baunya kok bisa segini ya’,” katanya. Sumber utamanya didominasi sampah sayuran busuk dari aktivitas pasar sangat berbeda volumenya dengan sampah rumah tangga biasa.
Artikel Terkait
Kebijakan WFH Jumat Berdampak, Arus Lalu Lintas Medan Turun 20 Persen
Bonjowi Klaim Empat Dokumen Krusial Jokowi Hilang dari Arsip KPU DKI
Medan Terapkan WFH Setiap Jumat, Targetkan Penghematan BBM 20 Persen
Presiden Prabowo Lantik Andi Rahadian Jadi Dubes untuk Oman dan Yaman