Tanpa pengalaman organisasi yang memadai, kebijakan dari Syuriyah bisa sulit dijalankan, atau malah menciptakan keruwetan internal. Pengalaman itulah yang memastikan roda organisasi berjalan efektif, dan komunikasi antara Syuriyah dan Tanfidziyah tetap lancar.
Sebuah Perbandingan Singkat: Rais Aam dan Rahbar
Menarik melihat mekanisme ini jika dibandingkan dengan sistem di Iran. Di sana, ada lembaga serupa Ahlul Halli wal Aqdi, yaitu Majelis Ahli, yang bertugas memilih dan mengawasi Rahbar atau Pemimpin Agung.
Persamaannya, kedua sistem menekankan bahwa pemimpin tertinggi harus punya kualifikasi keilmuan agama yang mumpuni, seorang Faqih atau Mujtahid. Posisi Rahbar di Iran sebagai otoritas politik dan spiritual tertinggi juga punya kemiripan dengan peran Syuriyah di NU.
Tapi bedanya cukup signifikan. Di Iran, kriteria itu bersifat formal-konstitusional negara. Sementara di NU, ini lebih merupakan kontrak moral dan kultural yang justru menjaga independensi ulama dari intervensi kekuasaan. Meski begitu, keduanya sepaham bahwa nasib umat tak boleh diserahkan ke sembarang orang, melainkan kepada mereka yang punya kedalaman ilmu dan kesucian hati.
Bagi warga Nahdliyin, memahami ini penting. Keberlangsungan PBNU sangat bergantung pada kualitas pemimpinnya, bukan sekadar latar belakang keturunan atau kedekatan politik. Saat proses pemilihan lewat AHWA berlangsung, fokusnya harus satu: "Apakah calon ini memenuhi kriteria Alim, Faqih, Zahid, dan berpengalaman organisasi?"
Kalau kriteria itu terpenuhi, siapa pun yang terpilih nantinya akan menjadi "paku bumi" yang kokoh bagi NU. Rais Aam yang ideal adalah yang mampu membawa NU tak hanya besar secara jumlah, tapi juga berwibawa secara moral dan cerdas secara strategis di panggung global. Wallahu'alam bishawab.
Penulis Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.
Artikel Terkait
Survei LSI: Mayoritas Publik Tolak Pilkada Lewat DPRD, Istana Angkat Bicara
Dua Prajurit Atlet Langsung Naik Pangkat Usai Bawa Emas SEA Games
Sisa Kayu Banjir Lalu Kembali Hanyut di Sungai Wih Gile
Golkar Tegaskan Syarat: Pilkada Lewat DPRD Harus Libatkan Rakyat