Berita mengejutkan datang dari Amerika Latin. Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan militer ke Venezuela dan berhasil menangkap Presiden Nicolas Maduro. Langkah drastis ini langsung mengguncang panggung internasional.
Tak butuh waktu lama, reaksi pun berdatangan. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi yang memanas ini. Pernyataan itu disampaikan oleh juru bicaranya, Stephane Dujarric, kepada CNN pada Minggu (4/1/2026).
Menurut Dujarric, Guterres tidak hanya prihatin, tapi juga diliputi kekhawatiran serius. Kekhawatiran itu terutama tertuju pada dampak gelombang kejut yang bisa melanda kawasan Amerika Latin secara lebih luas. Intinya, situasi ini dianggap sangat riskan.
“Terlepas dari situasi di Venezuela, perkembangan ini merupakan preseden yang berbahaya,” tegas Dujarric.
“Sekretaris Jenderal terus menekankan pentingnya penghormatan penuh, oleh semua pihak, terhadap hukum internasional, termasuk Piagam PBB.”
Sebenarnya, aksi AS ini bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ini seperti puncak gunung es dari tekanan berbulan-bulan yang digencarkan pemerintahan Donald Trump terhadap Caracas. Namun, eskalasi hingga ke level invasi dan penangkapan pemimpin negara itu jelas melampaui dugaan banyak pihak. Tidak heran, langkah Washington ini langsung menuai kecamatan dari sejumlah pemimpin dunia.
Suasana sekarang mencekam. Dunia menunggu, apa yang akan terjadi berikutnya.
Artikel Terkait
Kurma di Bulan Ramadan: Manfaat Gizi di Balik Tradisi Berbuka
Kadin Sumut Apresiasi Capaian Satu Tahun Pemerintahan Bobby-Surya
Kebakaran Hanguskan Puluhan Kios di Pasar Rebo Purwakarta Dini Hari
Menteri Keuangan Israel Ultimatum Hamas: Serahkan Senjata atau Hadapi Pendudukan Gaza