✍🏻 Erizeli Jely Bandaro
Andai kerusakan alam justru membuat negara kaya, mungkin kita masih bisa memakluminya. Sebagai harga yang harus dibayar untuk pembangunan, begitu kira-kira.
Bayangkan jika hutan yang gundul itu ditukar dengan sekolah dan universitas gratis, rumah sakit yang layak, riset yang maju, lapangan kerja melimpah, kota-kota tertata, dan rakyat yang sejahtera. Mungkin kita akan menghela napas dan berkata, "Ya, ada ongkosnya."
Tapi kenyataannya? Sama sekali tidak begitu.
Hutan kita hancur. Sungai-sungai mati pelan-pelan. Banjir bandang datang, memutus harapan dan nyawa generasi. Dan negara ini? Tetap miskin. Data Bank World menyebut lebih dari separuh populasi hidup dalam kemiskinan. Satu dari empat balita stunting. APBN defisit, dan tanpa utang, negara bisa bangkrut bahkan untuk membiayai gaya hidup elite saja tak mampu.
Lalu, pertanyaan mendasarnya jadi sederhana: untuk siapa sebenarnya ekologi kita digadaikan?
Untuk kemakmuran siapa hutan-hutan itu ditebang?
Dan untuk siapa tanah-tanah itu longsor?
Rakyat kecil hanya kebagian murka alamnya. Manfaat ekonominya? Entah ke mana.
Nah, kalau kerusakan ekologi sedahsyat itu tidak juga membawa kemakmuran, cuma ada dua kemungkinan yang tersisa.
Pertama, kita ini bangsa yang tolol. Membiarkan kekayaan alam dijarah habis-habisan tanpa ada nilai tambah yang berarti untuk negeri sendiri.
Atau…
Artikel Terkait
Opini Tanpa Data: Ancaman Nyata bagi Demokrasi di Era Medsos
Roy Suryo dan Dokter Tifa Gugat Pasal Pencemaran Nama Baik ke MK
Duka dan Amarah di Boyolali: Bocah Tewas, Ibu Kritis dalam Perampokan Biadab
Tragedi Lula Lahfah: Tabung Pink dan Misteri Kematian yang Tak Terautopsi