Hutan Habis, Negara Tetap Miskin: Untuk Siapa Kekayaan Alam Kita Dijarah?

- Rabu, 10 Desember 2025 | 06:00 WIB
Hutan Habis, Negara Tetap Miskin: Untuk Siapa Kekayaan Alam Kita Dijarah?

✍🏻 Erizeli Jely Bandaro

Andai kerusakan alam justru membuat negara kaya, mungkin kita masih bisa memakluminya. Sebagai harga yang harus dibayar untuk pembangunan, begitu kira-kira.

Bayangkan jika hutan yang gundul itu ditukar dengan sekolah dan universitas gratis, rumah sakit yang layak, riset yang maju, lapangan kerja melimpah, kota-kota tertata, dan rakyat yang sejahtera. Mungkin kita akan menghela napas dan berkata, "Ya, ada ongkosnya."

Tapi kenyataannya? Sama sekali tidak begitu.

Hutan kita hancur. Sungai-sungai mati pelan-pelan. Banjir bandang datang, memutus harapan dan nyawa generasi. Dan negara ini? Tetap miskin. Data Bank World menyebut lebih dari separuh populasi hidup dalam kemiskinan. Satu dari empat balita stunting. APBN defisit, dan tanpa utang, negara bisa bangkrut bahkan untuk membiayai gaya hidup elite saja tak mampu.

Lalu, pertanyaan mendasarnya jadi sederhana: untuk siapa sebenarnya ekologi kita digadaikan?

Untuk kemakmuran siapa hutan-hutan itu ditebang?

Dan untuk siapa tanah-tanah itu longsor?

Rakyat kecil hanya kebagian murka alamnya. Manfaat ekonominya? Entah ke mana.

Nah, kalau kerusakan ekologi sedahsyat itu tidak juga membawa kemakmuran, cuma ada dua kemungkinan yang tersisa.

Pertama, kita ini bangsa yang tolol. Membiarkan kekayaan alam dijarah habis-habisan tanpa ada nilai tambah yang berarti untuk negeri sendiri.

Atau…

Kedua, kita dipimpin oleh gerombolan bandit. Mereka yang menguasai industri ekstraktif hanya untuk mengeruk keuntungan pribadi dan kelompoknya.

Coba pikir. Negara dengan hutan rusak seharusnya punya cadangan devisa yang besar. Negara yang mengekspor nikel, sawit, batu bara, dan kayu seharusnya bebas dari jerat utang. Negara yang mengizinkan deforestasi seharusnya sedang menabung untuk masa depan, bukan menghancurkannya.

Tapi data berbicara lain. Justru utang menumpuk, fiskal seret, defisit membesar, dan ketergantungan impor pangan makin menjadi. Sementara hutan yang dulu menjadi penjaga terakhir tanah ini kini hanya tinggal nama di peta. Di bumi nyata, ia sudah sirna.

Bandit mengambil kayu. Mereka mengambil tanah. Mereka merampas kuasa. Dan rakyat? Diberi banjir, longsor, dan daftar panjang statistik korban.

Maka, jika bangsa ini tidak mau dicap tolol, sudah waktunya bertanya. Dengan suara lantang yang tak bisa lagi dibungkam.

Siapa sebenarnya yang selama ini mengambil untung dari kehancuran ekologi Indonesia?

Dan siapa yang membiarkan negara ini terperosok dalam utang, sementara hutan-hutannya musnah satu per satu?

Kalau kita tidak segera mencari jawabannya, tanah yang tersisa akan menjawab dengan caranya sendiri: lewat bencana yang datang silih berganti, semakin brutal.

Kita bisa saja berdalih, "Ah, Indonesia akan baik-baik saja. Dari dulu juga begitu."

Tapi jika itu yang kita pikirkan, berarti kita ini generasi terburuk. Sama buruknya dengan generasi sebelumnya, yang hanya mewariskan kebodohan dan kerusakan untuk anak cucu.

(")

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler