Soal penghasilan, Dede mengaku angkanya tidak pernah pasti. Ada hari di mana ia cuma membawa pulang Rp 300 ribu. Tapi di sisi lain, saat liburan benar-benar ramai, omzetnya bisa melonjak.
"Kalau rame, kadang sampai 50 lembar laku dalam sehari. Kalau sepi, ya mungkin cuma 20 lembar," jelas Dede.
Dia lalu merinci, harga satu lembar tikarnya Rp 10 ribu. Namun, dari penjualan itu, keuntungannya harus dibagi dua dengan pemilik tikar. Meski begitu, dalam sepekan di puncak liburan, terkadang ia bisa mengantongi sekitar Rp 2 juta. "Alhamdulillah habis buat kebutuhan," tuturnya. "Saya cuma jualan seminggu doang. Suami yang tiap hari."
Suasana Ragunan di hari libur memang lain. Keriuhan pengunjung dan semangat para pedagang seperti Dede menciptakan sebuah simfoni tersendiri sebuah potret tentang usaha dan daya hidup yang sederhana namun nyata.
Artikel Terkait
Serangan Israel di Beirut Tewaskan Ratusan, Guncang Lebanon
Atletico Hancurkan Barcelona 2-0 di Camp Nou, Tuan Rumah Terancam Tersingkir
PSG Kalahkan Liverpool 2-0, Kokohkan Posisi Jelang Leg Kedua
Harga Emas Perhiasan Tembus Rp2,4 Juta per Gram pada 9 April 2026