Menurut Wulan, hubungannya dengan keluarga korban tidak terlalu akrab. Pertemuan hanya sekadarnya. Afiah dan Syauqi sehari-hari berjualan es minuman.
"(Korban ibu) kebanyakan di dalam. Kalau keluar tuh kalau lagi perlu apa gitu, misalnya lagi mau kontrol, check up, itu keluar diboncengin anaknya. Sekadar, pokoknya pas ngobrolnya pas bertatap muka aja," ceritanya.
Yang membuatnya semakin terkejut, Wulan mengaku tak pernah sekalipun mendengar suara keributan atau pertengkaran dari rumah sebelah itu. Peristiwa ini datang begitu tiba-tiba, meninggalkan tanda tanya besar.
"Kaget banget," ucapnya lirih. "Begitu lihat itu sampai saya nggak doyan makan. Kebayang gitu kok bisa. Sampai biasanya suka berpapasan, nggak nyangka. Nggak nyangka. Suka, ibu ke mana apa gitu. Begitu lihat kondisi begitu udah kaget banget saya. Kaget banget kok bisa gitu, kenapa, selama ini saya nggak pernah denger ribut-ribut juga."
Kini, rumah itu telah sepi. Hanya kenangan dan sejuta pertanyaan yang tertinggal, menunggu proses hukum mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu itu.
Artikel Terkait
KPK Hentikan Tradisi Pamer Tersangka, Rompi Oranye Tak Lagi Muncul di Konpers
Pramono Anung Ziarah ke Makam MH Thamrin, Serukan Persatuan Kaum Betawi
Google Bantah Keterkaitan Investasi Gojek dengan Skandal Chromebook Kemendikbud
Degradasi Moral di Jakarta: Bonus Demografi atau Bom Waktu bagi Generasi Muda?