Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengeluarkan pernyataan terpisah. Intinya sama: menolak campur tangan asing. Baghaei meyakinkan bahwa rakyat Iran mampu menyelesaikan masalah mereka sendiri "melalui dialog dan keterlibatan".
Pernyataannya kemudian berubah menjadi sebuah kilas balik pahit. Dia menyebut rentetan sejarah kelam yang melibatkan Washington. Mulai dari kudeta 1953 terhadap PM Mohammad Mossadegh, penembakan jatuh pesawat sipil Iran tahun 1988, dukungan AS untuk Saddam Hussein selama perang, hingga dukungan untuk Israel dalam serangan terhadap Iran tahun lalu.
Narasi itu diakhiri dengan peringatan. "Dan hari ini, sekali lagi, ada ancaman serangan dengan dalih kepedulian terhadap rakyat Iran," katanya. Baginya, ini jelas melanggar prinsip paling mendasar hukum internasional. Suasana tegang antara kedua negara, tampaknya, belum akan mereda dalam waktu dekat.
Artikel Terkait
Bea Cukai dan Pajak Segel Empat Kapal Asing di Pantai Mutiara Diduga Selewengkan Fasilitas
Banyuwangi Catat Inflasi Terendah di Maret 2026 Meski Ada Tekanan Ramadan
WFH Aparatur Pemerintah: Disiplin dan Digitalisasi Kunci Jaga Kualitas Pelayanan Publik
Imigrasi Amankan Tiga Warga Australia Masuk Ilegal ke Merauke via Pesawat Pribadi