Bendera GAM Berkibar di Tengah Reruntuhan Gempa Aceh: Provokasi atau Sinyal Bahaya?

- Jumat, 02 Januari 2026 | 23:05 WIB
Bendera GAM Berkibar di Tengah Reruntuhan Gempa Aceh: Provokasi atau Sinyal Bahaya?

Hadapi ancaman seperti ini, pendekatan keamanan konvensional jelas tak memadai. Negara harus adaptif. Butuh literasi digital, narasi tandingan yang kredibel, dan kemampuan menjelaskan keadaan secara jujur pada publik. Itu semua jadi bagian penting dari strategi menjaga keutuhan bangsa.

Merawat Perdamaian yang Sudah Ada

Aceh punya memori kolektif yang panjang tentang trauma dan kekerasan. Itu sebabnya, menanggapi pengibaran bendera GAM apalagi dengan temuan senjata di lapangan harus hati-hati. Pendekatan persuasif dan empatik sangat krusial. Penegakan hukum jangan sampai malah membuka luka lama dan menumbuhkan rasa asing di tengah masyarakat.

Sejarah memberi kita pelajaran berharga. Lihatlah Sri Lanka pasca-tsunami 2004. Kegagalan pemerintah mengelola bantuan dan meredam narasi bencana berujung pada perang saudara yang panjang dan berdarah.

Aceh tak boleh terjatuh ke lubang yang sama. Potensi politisasi isu bencana atau bantuan kemanusiaan oleh kelompok-kelompok tertentu harus dipangkas dari akarnya. Setiap gesekan, termasuk penggunaan simbol terlarang, harus ditangani dengan tegas tapi bijak agar tak jadi bumerang provokasi.

Kuncinya mungkin ada di tangan aparat. TNI dan Polri perlu memenangkan hati rakyat dengan kehadiran nyata saat penanganan bencana. Tampillah sebagai pelindung yang humanis, yang memberi rasa aman, bukan cemas. Di sisi lain, mereka juga harus berani menindak tegas provokasi yang dilakukan segelintir elite atau kelompok sempilan.

Pada akhirnya, menutup celah politisasi bencana sejak dini adalah tugas berat negara. Ini tentang menjaga perdamaian yang sudah diraih dengan pengorbanan yang tak ternilai.


Ujang Komarudin
Pakar Politik, Pendiri Literasi Politik Indonesia (LPI)


Halaman:

Komentar