Di sisi lain, Anya kembali menegaskan posisi perusahaan. “Jakpro tidak bekerja sama dengan pihak ketiga, perorangan, atau kanal tidak resmi dalam pendistribusian tiket,” ujarnya. Semua ini dilakukan untuk memotong kemungkinan keterlibatan oknum tidak bertanggung jawab.
Sebelum pernyataan resmi Jakpro keluar, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebenarnya sudah lebih dulu menyoroti isu ini. Awalnya, ia meyakini tidak ada calo.
“Nggak, nggak ada calonnya. Nggak mungkin ada calo,” kata Pramono di Karet Tengsin, Jakarta Pusat, beberapa hari sebelumnya.
Namun begitu, ia juga memberikan peringatan. “Kalau ada calon, saya minta tanggung jawab Dirut JakPro.”
Pramono mengaku sudah memberikan pesan khusus. “Saya udah pesan wanti-wanti nggak boleh ada calo,” ucapnya. Kekhawatiran masyarakat yang menuduh adanya calo membuat tiket langka dan harganya melonjak, rupanya sudah sampai di telinga pemimpin ibu kota.
Kini, semua perhatian tertuju pada implementasi di lapangan. Apakah dua skema resmi itu benar-benar bisa menutup celah bagi para calo? Waktu yang akan menjawabnya.
Artikel Terkait
Drone Serang Kafe di Kherson, 24 Warga Sipil Tewas dalam Serangan Mematikan
Kasus Meninggalnya Siswa SMP di Tangsel Ditutup, Polisi Temukan Penyebab Lain
Tiga Piagam Penghargaan untuk Kapolres Tangsel, dari Ungkap Kasus hingga Atasi Macet Kronis
Lebih dari 213 Ribu Rumah Terdampak Bencana di Sumatera, Bantuan Tunai Segera Digelontor