Berlin, Jumat – Ketegangan di Timur Tengah kembali memaksa negara-negara besar untuk berunding. Kali ini, Jerman secara khusus meminta Tiongkok untuk turun tangan. Intinya, Berlin mendesak Beijing agar menggunakan pengaruhnya yang cukup besar di Teheran. Tujuannya? Membujuk Iran agar mau duduk berunding dengan Amerika Serikat.
Perang yang berkepanjangan dan situasi pelik di Selat Hormuz jadi latar belakangnya. Jerman ingin semua ini diakhiri, dan kebebasan pelayaran internasional dipulihkan secepatnya.
Seruan ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul. Ia baru saja mengakhiri percakapan telepon yang cukup intens dengan rekannya dari Tiongkok, Wang Yi. Menurut Wadephul, kedua negara punya kekhawatiran yang sama. Mereka melihat krisis di kawasan itu makin panas dan berpotensi meluas.
“Tiongkok dapat menggunakan pengaruhnya terhadap Iran secara konstruktif untuk mencapai solusi melalui perundingan dan penghentian permusuhan terhadap negara-negara Teluk,”
Begitu kata Wadephul lewat sebuah unggahan di media sosial, seperti dilaporkan kantor berita Anadolu, Jumat (3/4/2026). Ia menegaskan, di tengah situasi global yang serba tidak menentu ini, dialog antara Berlin dan Beijing justru kian krusial.
Tak cuma itu. Wadephul juga menyebut komitmen kedua negara untuk mengakhiri konflik. Poin lain yang ditekankan adalah soal keamanan pelayaran. “Jerman dan Tiongkok sama-sama ingin memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz,” ujarnya tegas.
Ia lalu melanjutkan, “Kami sepakat bahwa negara mana pun tidak boleh mengendalikan jalur pelayaran atau memberlakukan tarif untuk melintas.” Pernyataan ini seperti menyentuh kekhawatiran banyak pihak soal potensi gangguan pada arus perdagangan global.
Di sisi lain, respons dari Tiongkok punya nada yang agak berbeda. Menlu Wang Yi, dalam percakapan yang sama, menyoroti aksi militer AS dan Israel. Menurut ringkasan dari kantor beria Xinhua, Wang menyatakan serangan udara mereka terhadap Iran tidak punya mandat dari Dewan Keamanan PBB. “Jelas melanggar hukum internasional,” katanya.
Wang kemudian menyerukan penghormatan atas kedaulatan dan keamanan negara-negara Teluk. Ia juga meminta agar warga sipil dan aset non-militer dilindungi. “Keamanan jalur pelayaran, serta fasilitas energi dan infrastruktur, juga harus dilindungi,” tambahnya, menutup pernyataan.
Jadi, meski punya tujuan serupa yaitu stabilitas, pendekatan dari Berlin dan Beijing terlihat berbeda. Jerman lebih fokus pada mediasi dan perundingan, sementara Tiongkok secara eksplisit mengkritik langkah militer yang telah dilakukan. Perbedaan sudut pandang ini akan jadi tantangan tersendiri dalam mencari jalan keluar dari krisis yang rumit ini.
Artikel Terkait
Prabowo dan Macron Sepakati Penguatan Kerja Sama Pertahanan hingga Energi Bersih di Paris
INDODAX Salurkan 15 Hewan Kurban untuk 584 Keluarga Terdampak Bencana di Aceh
Presiden Prabowo Disambut Upacara Kenegaraan di Les Invalides, Lanjutkan Pertemuan Bilateral dengan Macron di Istana Elysee
Esensi Ibadah Kurban: Dari Ujian Keikhlasan Habil dan Qabil hingga Perintah Syariat bagi yang Mampu