Pasar minyak dan gas dunia sedang jungkir balik. Konflik yang masih berkobar di Timur Tengah, menurut Wakil Ketua MPR dari PAN Eddy Soeparno, telah menciptakan situasi yang disebutnya 'seller's market'. Intinya, kekuasaan kini sepenuhnya ada di tangan para pemasok.
Eddy menjelaskan, dalam kondisi seperti ini, mekanisme pasar normal seolah mandek. Disrupsi energi global memicu lonjakan permintaan, sementara pasokan justru terhambat salah satunya oleh penutupan Selat Hormuz yang vital.
"Kita tengah menyaksikan 'seller's market' yang mengendalikan transaksi perdagangan migas saat ini,"
ungkapnya dalam keterangan tertulis, Jumat (3/4/2026).
Artinya, produsen dan pemasok punya kewenangan besar. Mereka yang menentukan harga, volume, bahkan memilih kepada siapa barang dijual. Posisi tawar pembeli, termasuk negara-negara pengimpor seperti Indonesia, jadi sangat lemah.
Lalu bagaimana caranya menghadapinya? Eddy menekankan, kemampuan lobi harus dioptimalkan. Baik itu jalur pemerintah ke pemerintah (G2G) maupun bisnis ke bisnis (B2B).
"Mesin diplomasi internasional Indonesia perlu bekerja ekstra keras,"
tegasnya.
Artikel Terkait
Jenazah Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon Tiba di Tanah Air Akhir Pekan Ini
Ribuan Personel Amankan Ibadah Jumat Agung di Seluruh Sumatera Selatan
Pohon Tumbang Tewaskan Pengemudi Mobil di Bandung, 33 Titik Terdampak
Korlantas Polri: Operasi Ketupat 2026 Tekan Angka Kecelakaan 5,31% dan Fatalitas 30%