Bagi keluarga yang menunggu, kabar ini jelas seperti angin segar. Perasaan Voeung Vy, ayah dari salah satu prajurit yang dibebaskan, mungkin mewakili banyak pihak.
"Saya sangat bahagia. Saya tidak sabar untuk bertemu dengannya. Saya sangat merindukannya," katanya, suaranya terdengar haru saat diwawancarai AFP.
Ia berencana menyambut putranya langsung di Phnom Penh.
Gencatan senjata yang jadi pangkal tolak semua ini diteken pada Sabtu (27/12). Kesepakatan itu berhasil menghentikan pertempuran yang memakan korban tidak sedikit: puluhan nyawa melayang dan lebih dari satu juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Situasinya memang sudah sangat mencekam. Kini, dengan prajurit yang sudah kembali, ada secercah harapan bahwa perdamaian bisa lebih permanen. Tapi semua masih menunggu, tentu saja.
Artikel Terkait
Jerman Minta Tiongkok Gunakan Pengaruh di Iran untuk Perundingan dengan AS
Wisatawan Belgia Dideportasi dari Bali Usai Lompat Tebing dengan Motor dan Kabur dari Ganti Rugi
Wakil Ketua MPR: Pasar Minyak Dunia Jadi Sellers Market, Indonesia Perkuat Diplomasi Energi
Kapolda Riau Tinjau Langsung Karhutla, Tegaskan Penegakan Hukum dan Waspadai Ancaman El Nino