Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, langsung mengambil sikap tegas. Begitu rancangan undang-undang yang bisa memangkas hukuman penjara Jair Bolsonaro sampai ke meja kerjanya, dia mengancam akan memvetonya. "Ketika sampai di meja saya, saya akan memveto. Itu bukan rahasia lagi," tegas Lula dalam pernyataannya.
Dia juga menambahkan, "Saya memiliki hak untuk memveto, dan kemudian mereka memiliki hak untuk membatalkan veto saya atau tidak. Itulah permainannya."
RUU kontroversial ini baru saja disetujui oleh Senat Brasil. Isinya? Bisa mengurangi masa tahanan mantan presiden sayap kanan itu dari 27 tahun menjadi hanya sekitar dua tahun lebih. Kabarnya, RUU ini sudah diserahkan ke Lula setelah majelis menyetujuinya minggu lalu.
Namun begitu, jalan RUU ini tidak mulus. Lula jelas-jelas menolak. Bolsonaro sendiri saat ini sedang mendekam karena dinyatakan bersalah merencanakan kudeta terhadap pemerintahan Lula, setelah kalah di pilpres 2022.
Di sisi lain, di kalangan senator, RUU ini dianggap sebagai sebuah langkah rekonsiliasi. Mereka bilang ini upaya menuju perdamaian. "Ini adalah bagian dari jalan kita menuju perdamaian, dan kita semua harus merayakannya," ujar Senator Esperidiao Amin, penuh keyakinan.
Tak cuma soal Bolsonaro, teks aturan ini juga bakal meringankan hukuman bagi orang-orang yang terlibat dalam kerusuhan Januari 2023 silam. Kala itu, suasana memanas pasca pemilihan umum. Versi awal RUU sempat mengusung pengampunan untuk yang ikut 'demonstrasi politik', tapi amnesti penuh akhirnya tidak diberikan.
RUU ini mengubah cara perhitungan hukuman, sehingga hukuman kumulatif untuk beberapa kejahatan bisa dihindari. Ada juga potongan masa hukuman bagi terdakwa yang ikut dalam kerusuhan tapi perannya bukan sebagai pemimpin atau penyandang dana.
Reaksi pun datang dari kubu Bolsonaro. Senator Flavio Bolsonaro, putra sulung mantan presiden itu, menyambut baik keputusan Senat. Meski begitu, nada bicaranya terdengar sedikit pasrah. "Ini bukan yang kami inginkan, tetapi inilah yang mungkin terjadi dalam situasi saat ini di Kongres," katanya.
Gelombang kerusuhan itu sendiri berujung pada penangkapan massal. Sekitar 2.000 orang diamankan. Banyak dari mereka yang sudah divonis bersalah oleh Mahkamah Agung atas tuduhan percobaan kudeta dan kejahatan lainnya.
Sekarang, bola ada di pengadilan politik. Lula sudah ancam veto. Tinggal menunggu apakah Kongres punya cukup kekuatan untuk membatalkan veto presiden. Situasinya masih terus berkembang, dan ketegangan politik di Brasil tampaknya belum akan reda dalam waktu dekat.
Artikel Terkait
Lampu Jalan di Cipinang Muara Kembali Menyala Usai Dicuri, Pelaku Masih Buron
Tim BPTD dan Dishub Turun ke Lokasi Kecelakaan Maut Bus ALS di Muratara, Izin Angkutan Ternyata Sudah Kedaluwarsa
Prabowo Tiba di KTT ASEAN ke-48 di Filipina, Gunakan Mobil Maung Garuda sebagai Simbol Diplomasi Industri Nasional
Psikolog TNI Sebut Empat Terdakwa Penyerangan Air Keras ke Aktivis KontraS Masih Layak Jadi Prajurit