Sayangnya, korban jiwa dari insiden berdarah ini kebanyakan adalah mahasiswa. Dua orang yang meninggal dan delapan yang terluka tercatat sebagai pelajar. Sembilan pasien saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Rhode Island akibat luka tembak.
"Saat ini kami belum menahan pelaku penembakan," tegas Wali Kota Smiley dalam pernyataan terpisah, mengakui bahwa buronnya tersangka menjadi pusat perhatian utama.
Penembakan ini tentu mengguncang komunitas akademik. Universitas Brown bukan sembarang kampus; ia termasuk dalam jajaran Ivy League yang sangat prestisius di AS. Reputasinya yang tinggi justru membuat tragedi ini terasa lebih ironis dan menyedihkan.
Di tingkat nasional, Presiden AS Donald Trump juga angkat bicara. Ia menyatakan telah mendapatkan pengarahan lengkap mengenai situasi di Brown.
"Saya telah diberi pengarahan lengkap tentang situasi di Universitas Brown, betapa mengerikannya hal itu," kata Trump.
Menurutnya, fokus utama saat ini adalah upaya menolong para korban yang terluka. Pencarian untuk menemukan pria bertopeng itu terus digenjot, sementara sebuah komunitas berusaha memulihkan diri dari trauma yang mendalam.
Artikel Terkait
Putin dan Larijani Bahas Aliansi di Kremlin Saat Ancaman AS ke Iran Menggantung
Trump: Iran Ingin Berunding, Tapi Batas Waktu Rahasia Sudah Ditetapkan
Es Legen di Pantura Berujung Mencekam: Rp 140 Juta Raib Digasak Maling
Gempa Magnitudo 3,4 Guncang Lumajang Dini Hari