Di tengah ketegangan yang terus memanas, Presiden Rusia Vladimir Putin justru menemui pejabat tinggi Iran di Moskow. Pertemuannya dengan Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, berlangsung di Kremlin. Pertemuan ini punya timing yang menarik, mengingat Presiden AS Donald Trump saat ini sedang berupaya keras mendesak Teheran untuk kembali ke meja perundingan soal program nuklirnya.
Kremlin sendiri mengonfirmasi pertemuan itu melalui sebuah pernyataan singkat di situsnya. "Kepala negara menerima di Kremlin Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Republik Islam Iran, Ali Larijani, yang sedang mengunjungi Rusia," begitu bunyi pernyataan resmi mereka, seperti dilaporkan AFP akhir pekan lalu.
Sebelum pertemuan Moskow ini, Trump sudah lebih dulu bersuara. Dia mengungkapkan keyakinannya bahwa Iran sebenarnya ingin mencapai sebuah kesepakatan. Tujuannya jelas: menghindari kemungkinan aksi militer yang bisa saja terjadi.
Namun begitu, ancaman dari Washington sama sekali tidak surut. Trump bahkan memperbarui ancaman serangan militernya. Ancaman itu datang di saat yang sensitif, tepat ketika pemerintah Iran dikabarkan melakukan tindakan keras terhadap aksi unjuk rasa di dalam negeri. Aksi itu, menurut sejumlah pengamat, memakan korban jiwa yang tidak sedikit.
Lalu, apa yang dibicarakan Putin dan Larijani?
Kedutaan Besar Iran di Moskow memberi sedikit petunjuk lewat unggahan media sosialnya. Mereka menyebut pembicaraan itu berkisar pada kerja sama ekonomi dan berbagai isu regional serta internasional yang dianggap penting. Rincian lebih jauh? Tidak dijelaskan.
Posisi Rusia dalam seluruh dinamika ini memang unik. Moskow sudah lama menawarkan diri sebagai mediator antara Washington dan Teheran. Di sisi lain, hubungan Rusia-Iran sendiri semakin erat, terutama sejak konflik Ukraina meletus. Iran muncul sebagai sekutu utama yang memberikan dukungan signifikan bagi Rusia. Sebaliknya, dukungan politik internasional dari Moskow juga sangat krusial bagi pemerintah Iran.
Jadi, pertemuan di Kremlin ini bukan sekadar kunjungan rutin. Ia seperti potret nyata dari aliansi yang sedang menguat, di tengah tekanan yang justru datang dari arah yang berlawanan.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi