Kita sering diajari bahwa welas asih adalah sebuah pencapaian. Sesuatu yang harus kita usahakan dengan keras: jadi lebih sabar, lebih peduli, lebih pengertian. Compassion dipandang sebagai sikap yang benar, nilai luhur, sebuah pilihan moral. Jadi, saat melihat penderitaan entah pada orang lain atau diri sendiri kita berupaya "menghadirkan" rasa itu lewat tekad dan pengendalian diri.
Tapi ada pengalaman yang jarang dibicarakan. Semakin keras kita berusaha berbelas kasih, justru semakin berat rasanya. Muncul kelelahan, kekeringan, tekanan, bahkan sinisme. Rasanya seperti ada yang dipaksakan.
Ini bukan soal kita kurang matang secara spiritual atau gagal secara moral. Masalahnya lebih mendasar: kita melupakan tubuh.
Bayangkan, compassion coba kita bangun dari pikiran, nilai-nilai, dan tuntutan etika. Sementara itu, tubuh kita sendiri dalam keadaan tegang, lelah, atau kacau. Hasilnya? Welas asih berubah jadi beban. Alih-alih memulihkan, ia malah menguras energi dan membuka jalan menuju kelelahan emosional.
Compassion itu Biologis, Bukan Cuma Ajaran
Primatolog Frans de Waal punya pandangan menarik. Menurut penelitiannya, compassion bukan cuma produk budaya atau moral semata. Ini adalah kapasitas biologis yang berevolusi.
Dari pengamatannya terhadap primata, de Waal melihat perilaku seperti menenangkan individu yang terluka, melindungi yang lemah, berbagi makanan, dan merespons kesulitan dengan kedekatan fisik.
Perilaku ini muncul jauh sebelum manusia punya bahasa atau norma sosial yang rumit. Artinya, compassion berakar pada sistem saraf kita khususnya pada bagian yang mengatur ikatan, afiliasi, dan rasa aman.
Kalau begitu, compassion tak cukup hanya diajarkan sebagai nilai. Ia harus dialami secara fisiologis. Mengintegrasikannya ke dalam tubuh yang teregulasi berarti memindahkannya dari sekadar niat menjadi kondisi yang benar-benar dirasakan dan didukung oleh sistem saraf.
Kekuatan Melacak Diri Sendiri
Compassion tidak bisa dipaksakan dari atas. Ia hanya bisa muncul dari tubuh yang merasa aman dulu. Di sinilah banyak orang terjebak: mereka berusaha "menjadi compassionate" justru saat tubuhnya sedang dalam mode bertahan hidup.
Karena itu, langkah pertama yang penting adalah "tracking". Intinya, mengamati dengan jujur apa yang sedang terjadi di dalam diri saat ini.
Tracking mencakup tiga hal: apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan secara emosional, dan sensasi tubuh yang menyertainya.
Tanpa ini, kita sering mencoba bersikap penuh welas asih padahal tubuh sedang panik atau mati rasa. Sistem saraf kita punya prioritas: dalam kondisi tertentu, bertahan hidup lebih penting daripada peduli.
Kondisi itu misalnya threat mode (aktif, cemas, defensif) atau shutdown mode (lelah ekstrem, hampa, kolaps).
Nah, dalam keadaan seperti itu, memaksakan compassion biasanya berakhir jadi tiga hal: usaha moral yang melelahkan, kepatuhan sosial belaka, atau penekanan emosi. Tampak baik di luar, tapi dalamnya tegang, pahit, atau kosong.
Prinsip dasarnya sederhana tapi krusial: “Compassion cannot be installed on top of dysregulation.” Welas asih tidak bisa ditanamkan di atas tubuh yang kacau.
Artikel Terkait
Polri Serap Aspirasi Publik untuk Transformasi Layanan
Malam Larut di Bandung, dan Kenangan yang Tak Kunjung Pergi
Babinsa Kemayoran Dihukum Berat Usai Insiden Penjual Es Gabus
Prabowo Pacu Proyek 141 Ribu Rumah Subsidi, Cikarang Jadi Lokomotif