Ijazah UGM 1986 Prof. Saratri Unnes: 4 Perbedaan Mengejutkan yang Bikin Heboh!

- Jumat, 24 Oktober 2025 | 06:40 WIB
Ijazah UGM 1986 Prof. Saratri Unnes: 4 Perbedaan Mengejutkan yang Bikin Heboh!

Prof. Saratri Unnes Unggah Ijazah S1 UGM 1986, Ini Perbedaan Format dengan Ijazah Lain

Guru Besar Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof. Saratri Wilonoyudho, membagikan foto ijazah Strata 1 (S1) miliknya dari Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1986 di akun Instagram pribadinya @saratri_wilonoyudho.

Unggahan ijazah kuno ini muncul di tengah sorotan publik terhadap format dokumen kelulusan perguruan tinggi era 1980-an. Prof. Saratri menegaskan tujuan utama membagikan foto ijazah aslinya adalah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bentuk otentik ijazah UGM pada periode tersebut.

Perbedaan Format Ijazah UGM 1986

Dalam penjelasannya, Prof. Saratri menyoroti beberapa perbedaan format yang mencolok antara ijazahnya dengan dokumen serupa dari tahun yang berdekatan. Perbedaan tersebut meliputi:

  • Jenis font yang digunakan berbeda
  • Ijazah asli tahun 1986 tidak menggunakan materai
  • Nama rektor yang tercantum berbeda
  • Foto ijazah tidak diperbolehkan menggunakan kacamata

"Punya saya tidak ada materai, dan dulu tidak diperkenankan mengenakan kacamata dalam foto ijazah. Selain itu, jenis font-nya juga berbeda," jelas Saratri.

Keseragaman Format Ijazah 1980-an

Meski mengakui adanya perbedaan format, Prof. Saratri menahan diri untuk tidak berspekulasi mengenai keabsahan dokumen orang lain. Namun ia berpendapat bahwa ijazah dari tahun 1980-an seharusnya memiliki format yang relatif seragam, terutama untuk selisih waktu hanya satu tahun.

"Seingat saya, ijazah dari tahun-tahun 80-an itu umumnya seragam. Kalau selisihnya cuma satu tahun, seharusnya bentuk dan formatnya kurang lebih sama," tambahnya.

Integritas Akademik dan Transparansi

Prof. Saratri menekankan bahwa unggahan ijazahnya murni bersifat edukatif dan tidak bermaksud menggiring opini tertentu. Ia menyatakan percaya diri membagikan dokumen akademiknya karena yakin dengan kejujuran dan integritas dalam proses pendidikannya.

"Kalau saya pribadi, ijazah saya asli dan halal. Saya tidak pernah mencontek, tidak pernah melakukan plagiarisme. Jadi saya cukup percaya diri membagikannya," tegasnya.

Sebagai informasi, Prof. Saratri merupakan anggota Dewan Riset Daerah (DRD) Jawa Tengah dan dikenal sebagai sosok yang aktif menyoroti isu integritas akademik, termasuk pernah mengungkap dugaan plagiarisme di lingkungan Unnes.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar