Dalam Compassion-Focused Therapy (CFT) karya Paul Gilbert, compassion didukung oleh soothing system sistem penenang dalam regulasi emosi. Sistem inilah yang memungkinkan kita merespons penderitaan dengan kehadiran dan kehangatan, bukan reaksi berlebihan.
Lalu, bagaimana tahu soothing system kita aktif? Beberapa tandanya: napas lebih lambat dan dalam (terutama saat mengembuskan), rasa hangat di dada atau perut, otot wajah lebih lembut (terutama di sekitar mata dan rahang), dan postur tubuh tegak tapi rileks.
Secara neurokimia, kondisi ini terkait dengan oksitosin (rasa aman), endogenous opioids (kenyamanan), dan peningkatan vagal tone (kemampuan sistem saraf untuk tenang setelah stres).
Jadi, sebelum berlatih compassion, pastikan dulu tubuh dalam kondisi relatif aman dan teregulasi. Kembali lagi ke tracking: kenali apakah tubuh sedang dalam mode ancaman, shutdown, atau mendekati tenang. Sadari sinyal internal seperti napas, ketegangan, atau denyut jantung.
Kemampuan menyadari sinyal internal tubuh ini disebut interoceptive awareness. Ini fondasinya. Tanpa ini, compassion cuma jadi tuntutan moral, bukan pengalaman yang hidup.
Kalau tubuh belum siap, jangan dipaksa. Bantu tubuh kembali teregulasi dulu. Ada beberapa cara.
1. Compassionate Image (Paul Gilbert)
Teknik ini terinspirasi dari praktik meditasi Tibet. Kita membayangkan sosok penuh welas asih bisa nyata, imajiner, atau simbolik yang punya kualitas kebijaksanaan, kehangatan, dan kekuatan. Tujuannya bukan berfantasi, tapi mengaktifkan rasa aman di tubuh. Yang penting, sosok itu harus terasa aman secara fisik, bukan cuma di pikiran.
2. Connecting to Moments of Nurturance
Dalam pelatihan lain dari Emory University, ada praktik menghubungkan diri dengan momen-momen ketika kita merasa dirawat dan aman. Fokusnya bukan pada ceritanya, tapi pada sensasi aman yang muncul di tubuh saat mengingat momen itu.
Bagaimana Rasanya Compassion yang Sebenarnya?
Ketika tubuh sudah lebih teregulasi dan kita mulai praktik, kemampuan tracking tetap harus menyertai. Compassion yang hadir perlu dikenali lewat tiga dimensi: kognitif (pemahaman dan niat), afektif (rasa iba dan kehangatan), dan somatik (sensasi tubuh yang menenangkan dan membumi).
Dengan begitu, kita bisa pastikan compassion yang muncul adalah respons yang tepat, bukan sekadar reaksi stres yang terselubung. Pemahaman ini penting agar kita tidak salah mengira kelelahan sebagai compassion.
Kalau salah identifikasi, yang kita dapat bukannya kesehatan atau ketahanan emosional, melainkan kelelahan kronis, mudah marah, sinisme, atau mati rasa.
Pada akhirnya, compassion bukanlah tuntutan moral yang harus dipaksakan oleh pikiran. Ia adalah respons biologis alami dari tubuh yang teregulasi.
Ketika kita berhenti memaksa diri "menjadi baik" dan mulai mendengarkan tubuh dengan jujur, compassion tak lagi terasa berat. Ia akan hadir sebagai kualitas yang menenangkan, memulihkan, dan menopang baik untuk diri sendiri maupun orang lain.
Artikel Terkait
Pengungsi Pasca-Bencana di Sumatera Menyusut, Huntara Aceh Rampung 100%
Jalan Kabupaten Lumpuh, Belasan Motor Mogok Diterjang Banjir di Indramayu
Chiki Fawzi Dapat Closure dari Kemenhaj, Ini Alasan Pencopotannya
Polri Serap Aspirasi Publik untuk Transformasi Layanan