Menteri ESDM Sambut Angin Segar Kelonggaran Lintas Kapal di Selat Hormuz

- Selasa, 17 Maret 2026 | 16:20 WIB
Menteri ESDM Sambut Angin Segar Kelonggaran Lintas Kapal di Selat Hormuz

Di tengah ketegangan geopolitik yang masih menyelimuti Timur Tengah, muncul secercah kabar baik dari Selat Hormuz. Jalur sempit itu, yang selama puluhan tahun jadi urat nadi minyak dunia, konon mulai memberi ruang bagi kapal-kapal dari negara yang tak terlibat konflik untuk melintas. Ini tentu sinyal yang disambut positif oleh Indonesia.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia tak menyembunyikan rasa leganya. Ia menyebut perkembangan terbaru ini sebagai 'angin segar'. Pasalnya, Iran dikabarkan membuka jalur komunikasi bagi kapal-kapal kecuali milik Israel dan AS untuk berkoordinasi sebelum melewati selat tersebut.

"Sekalipun dalam kondisi geopolitik yang sampai sekarang belum ada tanda-tanda konflik di Timur Tengah itu selesai. Tapi kita sedikit mendapat angin segar dengan Selat Hormuz itu sudah mulai ada kebijakan tutup buka," ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa lalu.

Bagi Indonesia, kelonggaran ini punya arti strategis. Jangan lupa, kita masih net importir minyak. Kelancaran di Selat Hormuz langsung berpengaruh pada stabilitas pasokan BBM dalam negeri dan, yang tak kalah penting, beban biaya impornya.

"Artinya bagi kapal-kapal, bagi negara-negara yang bukan Israel dan Amerika, itu bisa sekarang untuk terjadi komunikasi," jelas Bahlil.

Dengan mulai normalnya lalu lintas kapal di kawasan itu, risiko gangguan pasokan dan lonjakan harga energi bisa sedikit diredam. Situasi ini membantu pemerintah mengamankan stok energi domestik, terutama jelang momen konsumsi tinggi seperti Lebaran nanti.

Namun begitu, pemerintah memastikan kewaspadaan tidak kendur. Dinamika di lapangan masih sangat cair. Kebijakan buka-tutup itu bisa berubah kapan saja jika tensi geopolitik memanas kembali. Karena itu, koordinasi dengan pelaku industri, termasuk Pertamina, terus digenjot untuk mengantisipasi segala kemungkinan.

Di sisi lain, momen ini jadi pengingat keras betapa pentingnya diversifikasi sumber energi dan efisiensi konsumsi di dalam negeri. Ketergantungan pada jalur vital seperti Selat Hormuz membuat kita rentan. Jadi, meski celah akses yang ada memberi ruang untuk bernapas lega, jalan panjang menuju ketahanan energi yang mandiri masih harus ditempuh.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar