Tiga Perusahaan Jepang Minati Proyek Waste to Energy Danantara

- Kamis, 23 April 2026 | 21:45 WIB
Tiga Perusahaan Jepang Minati Proyek Waste to Energy Danantara

Bisnis.com, JAKARTA Kabar menarik datang dari Kedutaan Besar Jepang. Mereka bilang, perusahaan-perusahaan Jepang mulai melirik proyek waste to energy yang digarap Danantara. Bukan cuma satu, tapi ada tiga perusahaan yang sudah menunjukkan minat.

Hal itu diungkap langsung oleh Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia, Myochin Mitsuru. Dalam sebuah diskusi di kantornya, Kamis (23/4/2026), ia mengonfirmasi ketertarikan tersebut.

“Sudah, mereka menunjukkan minat untuk proyek energi yang dilakukan oleh Danantara,” ujarnya singkat.

Tapi ya, jangan keburu optimis. Myochin juga paham betul kalau proyek ini masih dalam tahap awal. Evaluasi dan penyusunan masih berjalan, termasuk soal seleksi mitra. Semua berdasarkan kelayakan bisnis, tentunya. Belum lagi soal komitmen pemerintah daerah soal regulasi dan dukungan kebijakan yang jadi faktor krusial. Jadi, meski minat sudah ada, keputusan akhir tetap tergantung proses penilaian yang sedang berlangsung.

Menariknya, ini bukan kali pertama perusahaan Jepang terjun ke proyek serupa di Indonesia. Sebelum Danantara, mereka sudah punya pengalaman. Contohnya, Sumitomo yang bekerja sama dengan mitra lokal di proyek Legok Nangka. Proyek itu, kata Myochin, bahkan sudah lebih maju sampai tahap penandatanganan perjanjian jual-beli listrik alias PPA dengan PLN.

Legok Nangka sendiri bukan proyek kecil. Ini adalah proyek pengolahan sampah jadi energi listrik skala regional. Dirancang untuk melayani enam kota/kabupaten di Jawa Barat: Bandung, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Cimahi, Garut, dan Sumedang. Kapasitasnya? Sekitar 2.000 ton sampah per hari. Bayangkan.

Nah, soal apakah Jepang bakal terlibat langsung di Danantara atau tidak, Myochin punya pandangan sendiri. Menurut dia, teknologi waste to energy tetap solusi yang menjanjikan. Bukan cuma buat urusan sampah, tapi juga buat ketahanan energi. Makanya, Jepang punya kepentingan buat terus kerja sama di sektor ini lewat Danantara atau proyek lain.

“Itulah kenapa perusahaan Jepang untuk terus berkooperasi. Kita paham bahwa Pemerintah Indonesia akan memulai proyek ini. Jadi kita berharap Pemerintah Indonesia bisa memberikan kondisi yang menarik untuk berpartisipasi,” pungkasnya.

Harapannya, pemerintah bisa menciptakan iklim yang ramah buat investor swasta. Kepastian regulasi dan dukungan kebijakan jadi kunci. Tanpa itu, partisipasi swasta termasuk perusahaan Jepang bakal berat.

Soal Danantara sendiri, mereka sedang menggarap tiga proyek waste to energy di Bali, Bekasi, dan Bogor. Optimistis, proyek ini bakal jadi katalis pengelolaan sampah terintegrasi di Indonesia. Dalam laporan bertajuk Addressing Future Waste Challenges, disebutkan proyek ini diatur lewat Perpres No. 109/2025. Kontraknya panjang 30 tahun.

Proyek ini dirancang sebagai respons darurat. Sampah perkotaan jadi masalah besar, dan di sisi lain, ketahanan energi juga perlu diperkuat. Makanya, program ini dibagi dalam empat tahap. Fokus awal ada di empat wilayah yang dianggap paling siap: Bekasi, Bogor Raya, Bali, dan Yogyakarta.

Berdasarkan timeline yang dirilis Danantara, proses seleksi daftar penyedia terpilih (DPT) dan penerbitan request for proposal (RFP) sudah kelar pada Oktober-Desember 2025. Hasilnya? 24 perusahaan dinyatakan lulus kualifikasi dan berhak ikut tender di wilayah yang sudah siap.

(Putri Astrian Surahman)

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar