Kematian influencer Lula Lahfah masih terus jadi perbincangan hangat. Publik penasaran, bahkan muncul spekulasi liar. Salah satu yang ramai dibicarakan: apakah gas nitrous oxide atau N2O yang ditemukan di tempat kejadian punya andil?
Polisi pun turun tangan. Setelah serangkaian pemeriksaan, pada Jumat (30/1) kemarin, mereka menggelar jumpa pers. Tujuannya jelas: menjawab semua pertanyaan dan mengungkap barang bukti yang ditemukan. Termasuk soal tabung berwarna pink yang sempat bikin banyak orang bertanya-tanya.
Kamar Terkunci dari Dalam, Lula Ditemukan Meninggal
Semua berawal pada 23 Januari lalu. ART Lula yang berinisial A-lah yang pertama kali merasa ada yang tidak beres. Setelah sehari tak melihat aktivitas di unit apartemen Jakarta Selatan itu, ia pun minta bantuan.
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Mohammad Iskandarsyah, membeberkan kronologinya. Pintu kamar Lula ternyata terkunci dari dalam. Sekuriti dan pihak engineering apartemen akhirnya membuka paksa.
"Saudara Y di sini adalah sekuriti dari apartemen tempat saudari LL tinggal. Dan saudara Y di sini karena tidak bisa membuka pintu memanggil pihak engineering dari apartemen," jelas Iskandar di Mapolres Jaksel.
"Mereka naik ke atas untuk membuka paksa dengan seizin ART. Karena pada saat itu hanya ada ART dan dicurigai satu hari tidak ada aktivitas sampai dengan pukul 17.44," tambahnya.
Begitu pintu terbuka, pemandangan yang mereka lihat menyedihkan. Lula sudah terbujur kaku di tempat tidurnya.
Penyelidikan Dihentikan, Polisi Sebut Tak Ada Unsur Pidana
Setelah olah TKP dan penyelidikan mendalam, kepolisian mengambil keputusan. Mereka menghentikan kasus ini. Alasannya, kata Iskandar, tidak ditemukan indikasi kejahatan yang mengharuskan penyidikan dilanjutkan.
"Kami sudah melakukan penyidikan secara maksimal dan saya selaku ketua tim penyelidikan di sini saya rasa sudah cukup bahwa tidak ditemukan adanya peristiwa pidana," tegasnya dalam konferensi pers itu.
Singkatnya, bagi polisi, perkara ini sudah selesai.
Tabung Pink dan Barang Bukti Lainnya
Lalu, bagaimana dengan barang bukti yang ditemukan? Polisi menunjukkan sejumlah barang, dan yang paling menarik perhatian adalah sebuah tabung gas berwarna pink. Setelah diperiksa, tabung itu mengandung sisa nitrous oxide (N2O).
Menurut Iskandar, tabung itu dalam keadaan kosong saat ditemukan. Tapi setelah dibandingkan dengan produk sejenis, dipastikan isinya adalah N2O. Hasil pemeriksaan DNA juga mengonfirmasi bahwa barang itu milik Lula.
Namun begitu, barang bukti tak cuma itu. Ada banyak hal lain yang disita dari TKP.
Dari Whip Cream hingga Kotak Obat
Puslabfor Bareskrim Polri memeriksa semuanya. Selain tabung whip pink, ada sprei bernoda darah, kapas, tisu, dan yang cukup mencolok: sebuah kotak obat berwarna pink berisi 44 tablet berbagai jenis.
Obat-obatan yang ditemukan cukup beragam, mulai dari citalopram (antidepresan), diethylpropion (penekan nafsu makan), hingga clozapine (antipsikotik). Ada juga obat untuk jantung (encainide) dan infeksi usus (paromomycin).
Barang bukti lain yang tak kalah banyak: 4 botol liquid, 8 pods berbagai merek, dan tentu saja, tabung gas pink ukuran 2.050 gram tadi. Semua diperiksa untuk DNA, dan hasilnya cocok dengan profil Lula.
Misteri Penyebab Kematian yang Tak Terungkap
Di sinilah masalahnya. Meski barang bukti lengkap, satu hal krusial justru absen: penyebab kematian yang pasti. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, mengaku pihaknya tak bisa menyimpulkan apa pun.
Alasannya sederhana sekaligus rumit: keluarga menolak autopsi.
"Kita tidak bisa menjawab akibat apa kematian, kita tidak bisa menyimpulkan karena tidak dilakukan autopsi," ujar Budi.
"Kalau mendengar penjelasan Kasat Reskrim, bahwa pihak keluarga tidak berkenan untuk dilakukan autopsi karena tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan ataupun penganiayaan," lanjutnya menerangkan keputusan keluarga.
Jadi, tanpa pembedahan jenazah, teka-teki medis di balik kematian Lula Lahfah mungkin tak akan pernah terpecahkan.
Soal Surat Kematian dari Klinik Depok
Ada satu hal lain yang bikin publik bertanya: kenapa surat kematiannya terbit dari sebuah klinik di Depok, padahal kejadiannya di Jakarta Selatan?
Dr. Rizki Nirwandhi Putra, dokter yang memeriksa Lula, punya penjelasan. Ia mengatakan, saat itu ia dipanggil melalui layanan home care untuk memeriksa Lula di apartemennya.
"Simpang siur kliniknya di Depok dan pasiennya berada di area Jakarta Selatan itu karena almarhumah atau rekan almarhumah menggunakan jasa layanan home care yang mana saya langsung memeriksa pasien di rumah pasien tersebut," jelas Rizki.
"Namun atas dasar surat izin praktik saya dan klinik saya di Depok, maka saya hanya bisa menerbitkan atas kop klinik Mardhiyah Medical Clinic tersebut," tuturnya lagi. Jadi, murni soal administratif.
Peringatan Keras dari Kemenkes Soal N2O
Di tengah semua ini, Kementerian Kesehatan angkat bicara. Mereka menyoroti keras penyalahgunaan gas medis seperti nitrous oxide. El Iqbal dari Ditjen Farmasi Kemenkes menegaskan, dalam konteks kesehatan, N2O hanya boleh dipakai di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lain.
"Khusus untuk sektor kesehatan, gas Nitrous Oxide ini memiliki fungsi medis. Kami memiliki aturan bagaimana gas Nitrous Oxide ini berfungsi sebagai gas medik, yang hanya digunakan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat lanjut atau rumah sakit," kata Iqbal.
Gas ini biasa dipakai sebagai bius umum atau pereda nyeri dalam prosedur bedah dan kedokteran gigi.
Tapi pesannya serius. Penyalahgunaannya bukan main-main.
"Kami Kementerian Kesehatan memandang memang penyalahgunaan gas medik merupakan isu yang serius karena memiliki dampak yang nyata, baik itu dari dampak kesehatan yang serius sampai kematian," pungkas Iqbal.
Peringatan itu menggantung di udara. Sebuah pengingat suram di balik tragedi yang merenggut seorang influencer muda.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu