ungkap Linda dengan harap.
Kini, setelah lima bulan Tita bersekolah di sana, perubahan mulai terlihat. Di rumah, makan daging sapi atau ayam adalah kemewahan yang cuma bisa dinikmati sebulan sekali. Tapi di sekolah, Tita dapat asupan bergizi tiap hari. Tidurnya cukup, belajarnya teratur, ibadahnya tetap jalan. "Mana bisa kami kasih makan ayam tiap hari? Di sini Tita makan cukup. Istirahat cukup. Belajar cukup. Kami merasa sangat terbantu," ucap Linda, terdengar lega.
Stigma dan hinaan yang dulu begitu keras, perlahan mulai memudar. Linda sudah melihat buktinya sendiri pada sang putri. "Biar sekarang orang menghina. Mudah-mudahan besok orang menengok kami," katanya penuh keyakinan.
Impian pun kini berani diucapkan. Tita bercita-cita jadi dokter. Sebuah mimpi yang dulu tak pernah terbayangkan, apalagi diutarakan, karena kuliah adalah kemewahan yang terlalu mahal.
"Terima kasih kepada Pak Prabowo. Orang miskin seperti kami bisa sekolah, bisa makan, bisa bermimpi. Terima kasih sudah membantu rakyat kecil,"
pungkas Linda. Kata-kata sederhana yang terasa begitu berat maknanya.
Artikel Terkait
Anggota Satpol PP Banyuwangi Dikeroyok Saat Tegur Pesta Miras
KPK Tetapkan Bupati Cilacap Tersangka Pemerasan, Cak Imin: Kami Prihatin
Oknum Petugas di Pelabuhan Ciwandan Diduga Jual Tiket dengan Harga Lebih Mahal
Manchester United Kukuhkan Posisi Ketiga Usai Tundukkan Aston Villa 3-1