Arus banjir yang deras merobohkannya, membawa air dan lumpur masuk hingga ke dalam bangunan. Genangan air bahkan meluas ke kompleks makam kesultanan di sekitarnya.
“Pagar yang rusak panjangnya sekitar 24 meter,” jelas laporannya, setelah air mulai surut. Kerusakan itu terbagi dalam enam blok.
Kini, langkah awal seperti pembersihan lumpur dari lantai masjid dan penimbunan tanah di gundukan makam sudah dilakukan. Tapi pekerjaan masih panjang. Pekarangan masjid masih terendam, menghambat pembersihan area luar. Padahal, Masjid Azizi bukan sembarang tempat. Ia adalah cagar budaya provinsi dengan arsitektur megah yang memadukan gaya Melayu, Arab, hingga Eropa, dengan 21 kubah dan menara menjulang. Selain untuk ibadah, kompleks makam di areanya juga jadi tujuan ziarah warga.
Sementara itu, nasib serupa menimpa Rumah Tjong A Fie di Medan. Bangunan berperingkat nasional ini mengalami kerusakan di beberapa sisi. Posisinya yang lebih rendah dari jalan raya jadi masalah. Limpahan air dari jalan masuk ke lantai satu, membuat dinding lembab, kayu keropos, dan warna lantai memudar.
“Pembersihan lumpur sudah selesai dilakukan,” kata Dwi Fajariyatno, Pamong Budaya dari BPK Wilayah II Sumatera Utara yang terlibat dalam proses pembersihan.
Namun begitu, tim masih melakukan observasi mendalam. Tujuannya untuk menentukan skala prioritas penanganan selanjutnya, mengingat kerusakan yang terjadi cukup kompleks.
Pekerjaan pemulihan ini jelas tak bisa instan. Butuh waktu dan koordinasi ketat. Tapi setidaknya, upaya penyelamatan warisan sejarah itu sudah dimulai.
Artikel Terkait
Pemerintah Terapkan WFA 5 Hari untuk ASN dan Swasta Jelang Lebaran 2026
Jalan Lintas Selatan Blitar Segera Beroperasi, Dukung Mudik dan Pemerataan
Jelang Buka Puasa, Kemacetan Parah Landa Sejumlah Ruas Tol Jakarta
Makan Bergizi Gratis di Sekolah Perkuat Solidaritas dan Gairah Belajar