Yasser Abu Shabab, pemimpin milisi Palestina yang vokal menentang Hamas, dikabarkan tewas di Jalur Gaza, Kamis kemarin. Kabar ini tentu saja mengguncang dinamika konflik di wilayah tersebut. Selama ini, pria yang memimpin Pasukan Populer Gaza itu dikenal kerap bekerja sama dengan militer Israel untuk melawan pengaruh Hamas.
Bagi Israel, kematiannya jelas sebuah pukulan telak. Upaya mereka untuk menggalang dukungan dari klan-klan lokal di Gaza sebagai penangkal Hamas, bisa jadi ikut terkubur bersamanya.
Menurut kelompok yang dipimpinnya, Abu Shabab tewas bukan dalam operasi militer. Mereka menyebut pemimpin itu meninggal saat berusaha menjadi penengah dalam perselisihan keluarga yang memanas menjadi bentrokan berdarah. Pernyataan itu dilansir oleh Reuters dan Anadolu Agency, Jumat (5/12).
“Ini laporan yang menyesatkan,” begitu kata mereka, menepis segala spekulasi bahwa Hamas berada di balik kematian Abu Shabab.
Sebelumnya, media Israel seperti KAN TV sudah lebih dulu memberitakan kematiannya. Mereka mengutip sumber keamanan yang menyebut Abu Shabab tewas dalam bentrokan antarsuku. Sementara i24, saluran televisi Israel lainnya, punya versi sedikit berbeda. Mereka melaporkan Abu Shabab sempat dilarikan untuk dirawat di Pusat Medis Soroka, Israel selatan, sebelum akhirnya meninggal dunia akibat luka tembak yang dideritanya.
Lelaki dari suku Bedouin di Rafah ini memang sosok yang tak bisa dipandang sebelah mata. Di tengah berkecamuknya perang lebih dari dua tahun terakhir, dia muncul sebagai pemimpin paling menonjol dari sejumlah kelompok kecil anti-Hamas di Gaza. Wilayah operasinya pun berada di Rafah, kota yang kini sepenuhnya dikuasai Israel.
Di sisi lain, bagi Hamas, kabar duka ini justru bisa jadi angin segar. Mereka sudah lama mencap Abu Shabab sebagai pengkhianat dan kolaborator. Bahkan, perintah untuk menangkap atau membunuhnya sudah pernah dikeluarkan. Dengan hilangnya sosok seperti Abu Shabab dari peta kekuatan, Hamas mungkin akan sedikit lebih leluasa bergerak.
Suasana di Gaza tetap mencekam. Setiap kabar kematian seorang pemimpin, apapun latarnya, selalu meninggalkan ruang kosong yang rentan diperebutkan. Apa yang terjadi selanjutnya? Tunggu saja perkembangan di lapangan.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi