Yasser Abu Shabab, pemimpin milisi Palestina yang vokal menentang Hamas, dikabarkan tewas di Jalur Gaza, Kamis kemarin. Kabar ini tentu saja mengguncang dinamika konflik di wilayah tersebut. Selama ini, pria yang memimpin Pasukan Populer Gaza itu dikenal kerap bekerja sama dengan militer Israel untuk melawan pengaruh Hamas.
Bagi Israel, kematiannya jelas sebuah pukulan telak. Upaya mereka untuk menggalang dukungan dari klan-klan lokal di Gaza sebagai penangkal Hamas, bisa jadi ikut terkubur bersamanya.
Menurut kelompok yang dipimpinnya, Abu Shabab tewas bukan dalam operasi militer. Mereka menyebut pemimpin itu meninggal saat berusaha menjadi penengah dalam perselisihan keluarga yang memanas menjadi bentrokan berdarah. Pernyataan itu dilansir oleh Reuters dan Anadolu Agency, Jumat (5/12).
“Ini laporan yang menyesatkan,” begitu kata mereka, menepis segala spekulasi bahwa Hamas berada di balik kematian Abu Shabab.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Tiba di Zurich, Siap Pimpin Pidato di Panggung Elite Davos
Macron Berpidato dengan Kacamata Hitam di Davos, Trump Langsung Sindir
Tunisia Dilanda Banjir Terparah dalam 70 Tahun, 5 Tewas dan 4 Masih Hilang
Kapolres Serang Ngariung dengan Buruh, Komunikasi Tiga Arah Jadi Kunci