Petir Tewaskan Empat Petani yang Berteduh di Gubuk Sawah Serang

- Rabu, 03 Desember 2025 | 08:55 WIB
Petir Tewaskan Empat Petani yang Berteduh di Gubuk Sawah Serang

Hujan deras dan petir yang menyambar-nyambar telah merenggut nyawa di Kota Serang. Selasa sore (2/12) itu, cuaca yang awalnya biasa saja berubah jadi malapetaka. Sembilan warga Kasemen yang sedang bekerja di sawah menjadi korban. Empat orang meninggal dunia, sementara sisanya mengalami luka-luka dengan kondisi beragam.

Menurut sejumlah saksi, para petani itu sedang berteduh di sebuah gubuk saat petir tiba-tiba menyambar. Suaranya menggelegar, membuat warga sekitar berhamburan keluar. Gubuk itu menjadi lokasi yang tragis.

Wali Kota Serang, Budi Rustandi, langsung bergerak keesokan harinya. Ia menjenguk korban yang dirawat di dua rumah sakit berbeda.

"Di RS Drajat ada tiga korban, satu tidak tertolong. Satu lagi sudah pulang tadi dan sekarang berada di masjid," ujarnya, Rabu (3/12/2025).

Namun begitu, situasi ternyata lebih parah dari perkiraan awal.

"Setelah itu saya bergeser ke RSUD Kota Serang. Di sana ada lima korban, tiga di antaranya tidak tertolong, dan dua sedang dalam perawatan. Ternyata total korbannya bukan delapan, tetapi sembilan orang," lanjut Budi.

Masih ada satu korban lagi yang jadi perhatiannya. Orang ini belum mau dirujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.

"Insyaallah nanti Pak Lurah bersama Pak Erwin, warga, dan Pak Kapolsek akan membantu membujuk agar korban dibawa ke rumah sakit," kata Budi, berharap upaya persuasif bisa berhasil.

Di sisi lain, peristiwa ini jadi pengingat yang keras tentang betapa berbahayanya cuaca ekstrem. Budi tak henti-hentinya mengimbau warganya untuk lebih waspada. Desember ini, katanya, cuaca memang sedang tidak bersahabat.

"Saya juga mengimbau masyarakat, jika cuaca sedang tidak baik, lebih baik tetap di rumah. Karena di bulan Desember ini, masyaallah, banyak sekali kejadian bencana," tuturnya.

Harapannya sederhana: Kota Serang tetap aman dan selalu dalam lindungan. Namun, duka dari sawah di Kasemen sore itu pastinya akan terus membekas lama.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar