Roy Suryo "Diadili" Tiga Pemred Kompas Soal Ijazah Jokowi di KompasTV
Ada tiga nama yang hadir. Amir Sodikin dari Kompas.com, lalu Yogi Arief Nugraha dari KompasTV, dan Tri Agung Kristanto yang posisinya Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas. Mereka duduk berhadapan dengan Roy Suryo dalam satu forum.
Sebenarnya, ketiganya punya kesamaan pandangan. Mereka sudah lelah, bahkan menolak, untuk terus-menerus memberitakan kasus ijazah Jokowi yang tak kunjung usai. Tapi, mau tak mau, kehadiran Roy Suryo sendiri seperti memberi napas baru. Kasus yang hampir tenggelam itu tiba-tiba mendapat "oksigen" dan bertahan lebih lama dari perkiraan banyak orang.
Amir Sodikin tak sungkan mengungkapkan kelelahannya langsung di depan Roy Suryo. "Cukup, Mas Roy!" katanya. Namun, ia mengakui, analisis-analisis Roy Suryo-lah yang membuat isu ini tetap hidup dan terus mengudara.
Karena Roy Suryo, nama Jokowi yang seharusnya sudah perlahan menghilang dari panggung justru kembali mencuat. Awalnya, banyak yang curiga. Jangan-jangan Roy Suryo ini sengaja dipasang oleh pihak Jokowi sendiri untuk menjaga nama mantan presiden itu tetap relevan. Soalnya, secara tak langsung, Jokowi juga diuntungkan dengan pemberitaan yang terus berlanjut.
Di sisi lain, Yogi Arief Nugraha dari KompasTV juga heran. Menurutnya, tak ada mantan presiden lain yang seperti Jokowi. Meski sudah tak menjabat, ia tak pernah benar-benar turun panggung. Berbeda dengan SBY atau Megawati. Dan semua ini, lagi-lagi, berkat kasus ijazah yang digaungkan Roy Suryo dan kawan-kawan.
Yogi lebih memfokuskan pada aspek hukumnya. Ada pertanyaan mengganjal: kenapa status Roy Suryo Cs sudah sebagai tersangka, tapi prosesnya mandek? Berkas belum P21 dan tidak kunjung dilimpahkan ke pengadilan. Padahal, katanya, kasus seperti ini harus sampai ke meja hijau agar ada kepastian hukum yang final.
Sementara itu, Harian Kompas mengaku mengambil sikap yang sedikit berbeda. Tri Agung Kristanto, sang Wakil Pemimpin Umum, menyebut mereka menjaga jarak. Tapi bukan berarti mengabaikan. "Kasus ini terlalu menarik untuk dibiarkan lewat begitu saja," ujarnya. Mereka tetap mengikuti perkembangannya dengan saksama.
Awalnya, Tri Agung juga menduga motif Roy Suryo. Mungkin hanya ingin menjaga nama Jokowi tetap hidup, mengingat keduanya pernah dekat. Tapi dugaan itu buyar ketika Roy Suryo mulai menyoroti ijazah Gibran. Saat itulah segalanya berubah. "Ini bukan lagi satu kutub yang sama," katanya, "tapi sudah dua kutub yang saling berlawanan."
Lalu, bagaimana tanggapan Roy Suryo menghadapi "pengadilan" dari tiga pemred ini? Ia tak banyak membela diri. Malah terkesan berwayang, bermain di depan mereka. Roy Suryo sempat membuka bukunya, berusaha meyakinkan bahwa ijazah Jokowi itu palsu berdasarkan analisisnya terhadap postingan Dian Sandi Utama, seorang kader PSI.
Yang membuat para pemred heran, kasus ini umurnya jauh lebih panjang ketimbang kasus serupa seperti Bambang Tri atau Gus Nur. Mereka menduga Roy Suryo pasti punya backing politik kuat. Tapi backing itu, menurut mereka, bukanlah "orang besar" seperti yang kerap ditudingkan. Melainkan publik luas, termasuk media-media besar seperti Kompas sendiri, yang turut memberitakannya.
(Erizal)
[VIDEO ROY SURYO DI KOMPAS TV]
Artikel Terkait
Polda NTB Kembali Rotasi Plh Kapolres Bima Kota di Tengah Sorotan Kasus
Warga Semarang Berbuka Puasa Pukul 18.04 WIB pada Ramadan Hari Ketiga
Menlu Tegaskan Misi TNI di Gaza Murni Kemanusiaan, Bukan Operasi Militer
Polri Minta Maaf, Oknum Brimob Diduga Tewaskan Warga di Maluku