“Urbanisasi membuat anak semakin bergantung pada gadget. Sayangnya, ini juga membuka ruang kekerasan baru, termasuk yang bermula di dunia maya dan berlanjut secara fisik,”
ungkap Chico lagi.
Lingkungan sosial yang dingin dan acuh tak acuh turut memperparah keadaan. Dukungan dari tetangga nyaris tidak ada, relasi kuasa di sekolah masih kuat, dan korban sering merasa terisolasi terutama di kawasan padat penduduk. Perempuan muda juga menghadapi beban ganda: norma patriarki yang masih kental, ketimpangan gender, serta praktik pernikahan dini yang jadi pemicu kekerasan secara struktural.
Yang miris, berdasarkan survei nasional 2025, sekitar 70% korban memilih untuk diam. Mereka takut dapat stigma, khawatir dilaporkan malah berbalas masalah.
“Pencegahan harus dimulai dari keluarga, edukasi itu kunci,”
tegas Chico menutup penjelasannya.
Artikel Terkait
Paus Leo XIV Soroti Luka Gereja: Pintu Tak Boleh Tertutup bagi Korban
Ahli Geologi Turun Tangan Selidiki Lubang Ajaib di Sawah Pombatan
Banjir Setinggi Pinggang Rendam Tiga Desa di Probolinggo
Asap Mesin Penghancur Batu Tewaskan Empat Penambang di Badakhshan