Tembok Sekolah Roboh di Palmerah, Motor Warga Tertimbun Reruntuhan

- Jumat, 21 November 2025 | 14:20 WIB
Tembok Sekolah Roboh di Palmerah, Motor Warga Tertimbun Reruntuhan

Hujan gerimis baru saja reda di Kelurahan Kota Bambu Utara, Palmerah, Jakarta Barat, Kamis sore (20/11) sekitar pukul setengah enam. Tiba-tiba, sebuah suara gemuruh memecah keheningan. Tembok pembatas yang memisahkan kompleks SDN 01, 02, dan SMPN 130 itu ambruk.

Reruntuhannya tidak hanya berserakan di tanah. Tembok itu menimpa beberapa sepeda motor dan merusak bagian depan rumah warga yang kebetulan berada persis di depannya. Suasana yang tadinya tenang langsung berubah jadi chaos.

Seorang warga, Heni (55), yang menyaksikan kejadian itu punya analisis sendiri. Menurutnya, ini bukan insiden yang tiba-tiba. Dua hari sebelumnya, hujan deras sudah mengguyur kawasan tersebut. Ditambah lagi, ada aktivitas pengeboran untuk fondasi renovasi sekolah di balik tembok itu. Kombinasi kedua hal ini diduga jadi pemicu utama.

"Ya, dua hari kemarin kan hujan deras," ujar Heni, seperti dilansir Antara, Jumat (21/11/2025). "Lalu ada juga pengeboran buat fondasi sekolahan. Akhirnya tanah galian di belakang tembok jadi padat dan berat. Tekanannya kebesaran, ya... jebol."

Syukurnya, meski kejadiannya mendadak dan bikin panik, tidak ada korban jiwa atau pun luka-luka dalam insiden ini. Kabar baik di tengah kekacauan yang terjadi.

"Kebetulan anak-anak pada mau berangkat salat. Mereka lewat gang kecil dan masuk ke dalam. Alhamdulillah, selamat semua," cerita Heni sambil menghela napas. "Tapi, ada beberapa motor yang ketimpa. Itu yang belum bisa diselamatkan sampai sekarang."

Dia menggambarkan kepanikan warga saat tembok itu runtuh. Semua orang berusaha menyelamatkan diri dan orang-orang terdekat mereka. "Langsung panik, pas keluar rumah, ternyata tembok sekolahnya sudah roboh di depan mata," kenangnya.

Akibat kejadian ini, akses gang utama tertutup total oleh tumpukan batu dan beton. Warga yang biasa melintas terpaksa mencari jalan memutar. Empat unit sepeda motor masih terperangkap di bawah reruntuhan dan belum bisa dievakuasi. Dua rumah warga yang pintunya tertutup puing-puing juga tak bisa diakses.

Yang cukup mengkhawatirkan, runtuhnya tembok ikut menarik kabel listrik hingga hampir menyentuh tanah. Meski bangunan rumah tidak mengalami kerusakan struktural yang parah, penghuninya sudah diimbau untuk tidak dulu masuk ke dalam demi keamanan.

Di sisi lain, kalau dilihat dari dalam area sekolah, pemandangannya justru lebih parah. Tanah galian proyek yang sudah berubah menjadi lumpur menumpuk sangat tinggi, hampir menyamai ketinggian tembok setinggi tiga meter yang roboh itu. Garis polisi sudah dipasang mengelilingi zona bahaya, sementara petugas terus mengimbau warga, terutama anak-anak, untuk menjauhi lokasi.

Yang bikin was-was, tembok pembatas di sebelah bagian yang roboh juga sudah terlihat miring dan rapuh. Sepertinya tidak stabil. Namun begitu, proyek renovasi sekolah di dalam ternyata masih berjalan. Beberapa kendaraan proyek masih terlihat mondar-mandir, seolah insiden ini tidak cukup untuk menghentikan aktivitas mereka.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar