Kontradiksi ini langsung memantik gelombang kritik di media sosial. Banyak warganet menilai Budi Arie sedang berusaha memoles ulang narasi lama demi menyesuaikan arah politik baru di bawah pemerintahan Prabowo Subianto.
“Dasar anomali politik. Jejak digital masih nyala, klarifikasi malah nyeleneh," tulis akun Instagram @kementerian_kurangajar yang mengunggah video lama Budi Arie tersebut.
Kolom komentar pun dipenuhi sindiran tajam dari pengguna media sosial yang menuding Budi Arie plin-plan dan inkonsisten.
“Mungkin dia kena penyakit lansia,” tulis akun @willycahy"
“Seneng banget jilat ludah sendiri,” timpal @wai_"
“Gelandangan politik,” sebut pengguna @agoyp"
“Hasil ternak juragan we tok de tok,” tambah @syaifullah.ikh"
Analisis: Loyalitas Politik di Era Digital
Pernyataan terbaru Budi Arie mencerminkan fenomena klasik dalam politik Indonesia bahwa ketika loyalitas organisasi dan narasi perjuangan mudah berubah mengikuti arah 'angin' kekuasaan.
Sementara publik mungkin masih bisa memaafkan ingatan yang keliru, namun jejak digital rupanya tidak. Dan kali ini, jejak itulah yang justru berbicara lebih lantang dibanding klarifikasi sang ketum Projo.
Artikel Terkait
Kesepian di Era Terhubung: Ironi Dunia yang Semakin Digital
Atap Madrasah di Bogor Ambruk, Siswa Beralih Belajar Daring
London Bergemuruh: Ratusan Ribu Serukan Akhir Pendudukan Palestina
Hakim Desak Jaksa Kejar Buronan Kunci Kasus Korupsi Laptop Nadiem