Restorasi Jiwa dan Nalar Bangsa: Fondasi Esensial Menuju Indonesia Maju
Oleh: Girarda
Pemerhati Sosial
Dalam memori kolektif bangsa Indonesia, istilah seperti negara berkembang, negara maju, dan negara berpendapatan menengah telah lama melekat. Impian untuk bertransformasi menjadi negara maju pun menjadi tujuan utama, dengan pembangunan sebagai instrumen utamanya.
Segala upaya dan sumber daya seringkali difokuskan semata-mata untuk mengejar target pembangunan ini. Narasi prioritas kerap mengabaikan aspek-aspek fundamental lainnya, seperti kebebasan berekspresi, penghormatan terhadap hak atas tanah, ruang bagi imajinasi publik, serta penghargaan terhadap data dan fakta. Bahkan, aspek moralitas dan kepastian hukum terkadang terpinggirkan dalam derap pembangunan.
Kita sering terbuai oleh diksi "negara maju" yang diinterpretasikan secara sempit sebagai kemegahan fisik: infrastruktur yang mulus, gedung-gedung pencakar langit, dan teknologi yang canggih. Kesan monumental inilah yang membuat kita silau, seolah-olah itulah satu-satunya tolok ukur kemajuan. Segala cara pun dihalalkan untuk mencapainya, tanpa memedulikan konsekuensi jangka panjang.
Padahal, untuk menumbuhkan suatu bangsa yang maju, penguatan akar sosial dan budaya adalah sebuah keharusan. Fondasi ini membutuhkan ruang untuk bernalar, sinar harapan akan kemampuan diri sendiri, serta pemberantasan terhadap praktik-praktik koruptif, manipulatif, dan pencitraan yang semu.
Artikel Terkait
Sertifikat Menumpuk, Kompetensi Tergerus: Dampak Pandemi yang Mengubah Wajah Pendidikan
Generasi Layar: Saat Ponsel Menggerogoti Kemampuan Fokus Anak Muda
Mobil Terbakar Hebat di Jagorawi, Lalu Lintas Malam Terkunci
Bocah dengan Laptop Pecah Ditemukan Sendirian di Sleman