Dari Balik Layar: Seorang Penulis Menjawab Skeptisisme dengan Kata sebagai Warisan

- Senin, 02 Februari 2026 | 05:06 WIB
Dari Balik Layar: Seorang Penulis Menjawab Skeptisisme dengan Kata sebagai Warisan

Di tengah riuhnya arus informasi digital, menulis bagi saya adalah cara paling jitu untuk mengekspresikan diri. Lewat untaian kata, saya bisa berbagi gagasan, pengalaman, dan pengetahuan melampaui batas ruang dan waktu. Itu sebuah kelegaan tersendiri.

Namun begitu, perjalanan saya tak selalu mulus. Seringkali muncul keraguan, terutama saat tulisan-tulisan yang saya kirim ke berbagai platform seperti Kompasiana atau Kumparan seolah tenggelam begitu saja, tak mendapat perhatian yang saya harapkan.

Cetak Biru Perubahan

Kegamangan itu memuncak suatu hari. Seorang rekan kerja dengan nada skeptis pernah berkata kepada saya.

"Percuma saja kamu menulis artikel di media daring. Pimpinan mana ada waktu baca? Kalaupun dibaca, mana mungkin dibahas di rapat-rapat penting. Kamu kan tak pernah dipanggil mereka untuk mendiskusikan pemikiranmu itu?"

Ucapan itu sempat membuat saya tertegun. Tapi saya memutuskan untuk tak membiarkannya menghentikan langkah saya.

Solusinya bukan berhenti menulis, justru sebaliknya: perkuat kualitas dan tujuan tulisan itu sendiri. Kita harus mulai berpikir bahwa menulis itu untuk orang lain. Tujuannya jelas: membuat perbedaan, sekecil apapun itu.

Menurut saya, efektivitas sebuah kritik akan melonjak jika disertai bahasa yang persuasif, struktur kuat, dan isi yang solutif. Daripada mengkritik sistem secara membabi buta, penulis harus bisa jadi contoh nyata di lapangan. Tunjukkan bahwa gagasan yang dituliskan memang bisa diwujudkan.

Dengan begitu, tulisan tak lagi dianggap sekadar keluhan. Ia berubah menjadi cetak biru perubahan yang kredibel. Jadi, menulis bukan cuma tentang diri sendiri atau cari pujian. Ini soal bagaimana kita memberi kontribusi nyata.

Menulis Sebagai Dakwah

Saya yakin betul, menulis adalah salah satu bentuk dakwah. Sebuah upaya menyebar gagasan yang bermanfaat bagi orang lain. Saya rasa, pendapat rekan saya tadi lahir dari cara pandang yang sempit dalam memaknai kata 'dampak'. Kalau kita cuma mengukur keberhasilan dari seberapa cepat pimpinan mengubah kebijakan, ya, kita akan sering kecewa.

Bagi saya, ini bukan soal cari pujian atau pengakuan dari atasan. Saya menulis untuk membuat perbedaan. Dan kalaupun perubahan sistemik yang besar tak kunjung datang, setidaknya saya sudah melakukan sesuatu yang positif. Lebih baik daripada cuma mengeluh di belakang meja.

Ini bukan pemuasan ego. Ini tentang bagaimana saya bisa berkontribusi untuk masyarakat luas. Lewat tulisan, saya bisa membagi pengalaman dan pengetahuan. Siapa tahu, itu justru jadi jawaban bagi masalah orang lain yang tak pernah saya temui sekalipun.

Tulisan Sebagai Sumber Inspirasi

Saya percaya, setiap tulisan punya potensi untuk membuat perubahan. Dampaknya mungkin tak langsung terlihat sekarang, bisa jadi bersemi di masa depan. Atau, mungkin ia cuma dibaca satu orang, tapi sangat berarti bagi orang itu.

Bagi saya, itu sudah cukup. Cukup untuk membuat jari-jari ini tetap menari di atas keyboard.

Di sisi lain, saya sadar menulis adalah proses penting bagi pertumbuhan pribadi saya sendiri melampaui hasil akhirnya. Dengan menulis secara konsisten, saya mengasah ketajaman pikiran, meningkatkan kemampuan berbahasa, dan mengembangkan kedalaman gagasan. Bahkan jika tulisan saya dianggap angin lalu oleh pimpinan, saya secara pribadi sudah memetik manfaat besar dari proses perenungan dan penyusunan argumen tadi.

Siapa yang tahu? Tanpa saya sadari, tulisan saya bisa saja jadi sumber inspirasi bagi suatu institusi atau seseorang yang sedang mengalami kesulitan serupa. Kita tak pernah benar-benar paham sejauh mana jangkauan sebuah kata. Kalaupun saya tak bisa melakukan perubahan revolusioner, setidaknya saya sudah jadi bagian dari arus perubahan kecil itu sendiri.


Halaman:

Komentar