Dari Balik Layar: Seorang Penulis Menjawab Skeptisisme dengan Kata sebagai Warisan

- Senin, 02 Februari 2026 | 05:06 WIB
Dari Balik Layar: Seorang Penulis Menjawab Skeptisisme dengan Kata sebagai Warisan

Menulis juga adalah bentuk tanggung jawab saya. Sebagai seorang yang telah mengabdi puluhan tahun di dunia akademik, baik di Indonesia maupun sebagai dosen tamu di Vietnam, saya merasa wajib membagikan pengetahuan dan gagasan. Memendam kebenaran adalah sebuah kerugian. Kalaupun pada akhirnya tak ada yang baca, setidaknya saya sudah berbuat sesuatu yang positif untuk kewarasan diri sendiri.

Lebih dari sekadar susunan kata di layar, tulisan ini adalah keyakinan bahwa gagasan yang benar tak akan pernah mati. Ini bukan cuma aktivitas intelektual, tapi cara untuk meninggalkan warisan yang melampaui usia biologis.

Di tengah kebisingan birokrasi dan hiruk-pikuk politik yang sering lupa substansi, tulisan ini hadir sebagai kompas kecil yang saya tancapkan dalam sejarah perjalanan sains bangsa. Kelak, ketika raga ini sudah tiada, saya berharap jejak pemikiran ini tetap abadi. Sebuah pengingat sunyi namun tajam, bahwa kemandirian teknologi adalah harga mati yang harus diperjuangkan dengan tindakan, bukan cuma retorika.

Saya memimpikan masa depan di mana generasi mendatang, saat menghadapi tantangan global yang jauh lebih kompleks, menemukan kembali tulisan ini dan merasa tidak sendirian.

Tulisan ini saya persiapkan untuk jadi obor inspirasi bagi peneliti muda, dosen independen, dan kaum diaspora yang mungkin sempat patah arang terhadap sistem di tanah air. Dengan mendokumentasikan kegelisahan dan solusi ini, saya sedang menanam benih keberanian. Agar mereka tak takut untuk terus bersuara kritis dan berinovasi di luar batas-batas konvensional.

Inilah bentuk pertanggungjawaban moral saya kepada sejarah. Memastikan bahwa api perjuangan untuk Indonesia yang mandiri dan berbasis ilmu pengetahuan akan terus menyala, melintasi zaman.

Kekuatan untuk Menginspirasi

Dalam setiap perenungan, saya selalu berpesan pada diri sendiri: jangan pernah berhenti menulis. Teruslah berbagi. Teruslah berusaha membuat perbedaan. Karena menulis adalah kekuatan yang saya miliki untuk menginspirasi orang lain. Jangan biarkan keraguan atau ketakutan akan ketidakefektifan menghentikan jemari ini.

Menulis bagi saya bukan cuma mengekspresikan apa yang ada di kepala. Ini tentang bagaimana saya bisa jadi katalisator perubahan. Saya harus tetap menyebar pemikiran yang bermanfaat. Juga harus mawas diri, ingat bahwa menulis bukan untuk memuaskan aspirasi pribadi semata, melainkan untuk memberi manfaat bagi orang lain.

Untuk itu, saya harus menulis dengan visi yang jelas. Bukan sekadar merangkai kata tanpa arah, tapi memastikan pesan bisa dibaca, dipahami, dan diterima logika pembaca. Saya tertantang untuk terus memperbaiki gaya bahasa, struktur argumen, dan kedalaman isi agar benar-benar mampu menawarkan solusi yang kuat.

Saya juga bertekad berhenti hanya mengkritik sistem dari luar. Saya harus memulai perubahan dari diri sendiri dengan jadi teladan dalam bekerja. Tunjukkan lewat tindakan nyata bahwa nilai-nilai yang saya perjuangkan dalam tulisan, adalah nilai-nilai yang juga saya praktikkan dalam keseharian.

Menulis Adalah Komitmen

Menulis adalah kekuatan saya. Dan saya berkomitmen menggunakan kekuatan itu demi kebaikan. Saya tak akan biarkan skeptisisme rekan kerja atau ketidakpedulian pimpinan memadamkan api kreativitas ini.

Mari mulai perubahan dari hal paling kecil: dari diri kita sendiri. Dengan menulis berdasarkan tujuan yang tulus untuk membuat perbedaan.

Pada akhirnya, saya tak akan biarkan keraguan dan ketakutan menghentikan langkah kreatif ini. Saya akan terus menulis dan berbagi. Karena setiap tulisan punya kekuatan untuk membuat perbedaan, menginspirasi, dan meninggalkan warisan.

Meski perubahan besar belum tampak sekarang, setidaknya saya sudah mengambil langkah positif dan jadi bagian dari perubahan itu sendiri. Saya memotivasi diri untuk tak pernah ragu menulis. Siapa tahu, suatu hari nanti, gagasan yang saya tabur hari ini akan tumbuh jadi pohon besar yang menaungi banyak orang.

Saya percaya, suatu hari nanti, salah satu tulisan yang dibuat dengan penuh perjuangan ini banyak yang sempat ditolak Editor akan memicu perubahan besar. Sampai saat itu tiba, saya akan terus menulis, terus berbagi, dan terus percaya bahwa setiap kata punya nyawanya sendiri untuk memperbaiki keadaan.

Ini komitmen saya pada diri sendiri: Menulislah. Karena dengan menulis, kamu tidak hanya sedang berbicara kepada dunia. Kamu sedang mengabadikan kebenaran yang kita yakini.


Halaman:

Komentar