Pasar modal Indonesia kini tercatat sebagai yang terbesar di kawasan Asia Tenggara. Pertumbuhannya sangat pesat. Namun, bagi Rosan Roeslani yang menjabat sebagai Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara Indonesia ukuran bukanlah segalanya. Ada hal yang jauh lebih krusial.
“Indonesia menjadi pasar modal terbesar di region ASEAN ini,” ujarnya dalam konferensi pers di BEI, Minggu (1/2/2026).
“Tapi tentunya yang paling penting adalah di tahap berikutnya: bagaimana kita memastikan pasar modal kita ini terus berkembang tapi dengan standar kualitas yang baik, yang mempunyai dampak positif.”
Menurut Rosan, fokus utama ke depan harus pada kualitas, transparansi, dan akuntabilitas. Tanpa itu, pertumbuhan yang besar bisa jadi tak berarti banyak bagi perekonomian secara menyeluruh.
Di sisi lain, ia melihat hubungan yang erat antara pasar modal yang kuat dengan masuknya investasi asing langsung. Kepercayaan investor terhadap pasar modal seringkali menjadi pintu gerbang sebelum mereka memutuskan untuk menanamkan modal jangka panjang di sebuah negara. Itu kunci utamanya.
“Karena kontribusinya terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia kurang lebih 28-29 persen dari pertumbuhan kita yang selama ini terjaga di atas 5 persen,” lanjut Rosan.
Memang, konsumsi dalam negeri masih menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan sekitar 53-54 persen. Tapi investasi tetap pilar kedua yang vital. Dan kesehatan pasar modal adalah penopangnya. Soal valuasi saham yang tinggi, Rosan tak terlalu khawatir. Asalkan terbentuk secara wajar lewat mekanisme pasar yang transparan, itu bukan masalah.
“Pasar modal kita adalah pasar modal tidak hanya besar dari size, tidak hanya besar dari pertumbuhan pasar modal,” tegasnya.
“Kita ini adalah pertumbuhan yang transparan, berkualitas, dipercaya dengan ekuitas yang tinggi. Dan semua harga pembentukan di dalam pasar modal ini murni adalah pembentukan dari demand dan supply.”
Untuk menjaga semua itu, peran seluruh pemangku kepentingan dinilai mutlak. OJK, BEI, KSEI, hingga KPEI semua harus bergerak bersama.
“Kita punya kepentingan yang sama bagaimana bursa kita ini tumbuh tidak hanya dari segi market cap, tapi juga dari kualitas dari bursa kita ini adalah kualitas yang baik dan benar,” ujarnya.
Perkembangan yang terjadi belakangan ini, menurut Rosan, justru momentum yang tepat. Saatnya untuk mendorong kualitas lebih tinggi lagi, transparansi yang lebih baik, dan akuntabilitas yang tak bisa ditawar. Momentum untuk membangun kepercayaan yang lebih kokoh.
(Febrina Ratna Iskana)
Artikel Terkait
Bitcoin Tembus Rp1,39 Miliar, Tertinggi dalam Tiga Bulan Didorong Arus Dana Institusional
BRI Gandeng Grab, Beri Diskon Belanja dan Transportasi bagi Pemegang Kartu Kredit
MNC Bank Medan Bagikan Hadiah Cashback Jutaan Rupiah Lewat Program Tabungan Dahsyat Arisan
IHSG Ditutup Menguat 1,22 Persen ke 7.057, Didorong Sektor Barang Baku dan Keuangan