Ceritanya berawal dari unggahan Facebook Ade Indra Wati, seorang penjual kue, pada 30 Januari 2026. Ia bercerita dengan nada yang cukup santai, campur aduk antara kesal dan geli.
Di awal-awal program MBG berjalan, situasi dapur SPBG masih terbilang aman dan terkendali. Pesanan roti yang masuk masih di kisaran harga empat sampai lima ribu rupiah. Lumayanlah.
Tapi lama-lama, kok jadi makin aneh. Pesanan dengan harga segitu sudah nggak ada lagi yang datang. Yang ada malah orderan dengan harga tiga ribu, bahkan cuma dua ribu per rotinya. Ya ampun.
"Mending aku ngurusin isi toko ku, dr pd ngurusin roti mbg yg harga 2ribu," tulis Ade disertai emoji ketawa. Ia mengaku sama sekali tidak tergiur. Menurutnya, kalau dipaksakan, badan bisa kurus dan sakit liver karena dipaksa kerja terus-terusan tanpa henti.
Namun begitu, realitanya yang datang justru pada minta harga dua ribu, atau malah lebih rendah lagi. Ade pun angkat bicara dengan jujur.
"Maaf saya tidak bisa membuatnya," ujarnya. Ia menjelaskan, jujur saja dia tidak bisa bikin roti hanya pakai tepung merk payung, pengembang, dan air. Komposisi seperti itu, katanya, biasanya cuma ditemui di produksi roti kampas.
Artikel Terkait
KADIN DIY Usung Tiga Filosofi Jawa untuk Cetak Ekonomi Yogyakarta yang Berkarakter
Program Makan Bergizi: Antara Klaim Davos dan Keracunan yang Terus Berulang
Teripang: Kisah Ginseng Laut yang Diperebutkan dari Dasar Samudra
Interpol Terbitkan Red Notice untuk Buronan Korupsi Minyak Riza Chalid