Di sisi lain, Ade mengaku tahu persis bahwa ini adalah program presiden. Roti yang dimaksud seharusnya dihargai enam ribu rupiah per biji. "Jangan ada yang menyangkal," tegasnya. Alasannya, uangnya ditransfer langsung dari pusat dan yang membayar pihak BGN ke rekeningnya adalah sebesar enam ribu rupiah per roti.
Dengan harga segitu, komposisinya pun jelas lebih baik: tepung merk Cakra, susu UHT, telur, susu bubuk, gula, fermipan, baker mix, margarin, dan butter. Itu roti bergizi, tanpa pengawet.
Nah, kalau yang dipesan cuma dua ribu ke bawah? Sudah pasti semua bahan bagus tadi nggak akan ditemukan. Untuk harga tiga ribu, mungkin masih bisa dibuat dengan komposisi serupa, tapi gramasi adonannya harus dikecilkan jadi cuma 35 gram.
Yang lebih parah lagi, sekarang malah ada yang pakai roti pabrikan. Masa pembuatan sampai kadaluarsanya bisa sampai tiga bulan! "Roti exp 3 bulan?" tanyanya heran.
Pengalamannya ini bukan omong kosong. "Anak saya selalu membawa roti pulang," tutur Ade. Dari situlah dia jadi paham dan bisa menilai. Ia bilang, ini bicara berdasarkan fakta yang dilihat langsung, bukan karangan.
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, VinÃcius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral