Gencatan senjata di Gaza ternyata tak mampu menghentikan dentuman. Sukamta, Wakil Ketua Komisi I DPR RI, tak bisa menyembunyikan kecamannya terhadap serangan Israel yang terjadi justru di masa rentang waktu itu. Menurutnya, Israel sudah terlalu sering menginjak-injak norma hukum yang ada.
Sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober 2025, serangan ke warga sipil terjadi berulang kali. Sukamta menyitir laporan pemerintah Palestina di Gaza: sedikitnya 488 tewas dan 1.350 orang luka-luka.
"Sungguh memilukan," katanya kepada wartawan, Senin (2/2/2026).
"Apa yang terjadi di Gaza Palestina adalah pelanggaran terus-menerus terhadap semua norma kemanusiaan dan hukum, tanpa konsekuensi. Tidak ada penyelidikan atas kejahatan terorganisir yang dilakukan Israel."
Politikus PKS ini mendesak pemerintah Indonesia untuk lebih aktif. Ia berharap ada dorongan kepada institusi internasional agar mengambil langkah konkret dan terukur untuk menghentikan kekerasan Israel. Kalau dibiarkan, hukum internasional bisa kehilangan wibawanya sama sekali.
"Persoalan utamanya adalah penegakan hukum yang tidak konsisten," ujar Sukamta.
"Selama ini terasa ada tebang pilih. Saat Israel melanggar, seolah tak ada mekanisme untuk menghentikannya. Jika terus dibiarkan, hukum humaniter internasional akan kehilangan legitimasinya di mata Bangsa Palestina dan dunia."
Serangan terbaru yang menewaskan puluhan warga sipil ini, baginya, juga jadi alarm keras. Terutama untuk lembaga baru Board of Peace (BoP) yang diharapkan bisa mendatangkan perdamaian di Palestina. BoP harus bertindak tegas.
"Ini jelas ujian bagi BoP, dan khususnya buat Trump sebagai inisiator," kata Sukamta.
Dia melanjutkan, ketika lembaga internasional lain terlihat lumpuh menghadapi kejahatan Israel, banyak yang memandang BoP sebagai terobosan potensial.
"Langkah paling dinantikan ya penghentian semua kekerasan Israel terhadap warga sipil. Plus, bantuan kemanusiaan harus segera dibuka seluas-luasnya untuk Gaza."
"Setiap inisiatif perdamaian akan jadi omong kosong belaka jika tak mampu mencegah pemboman terhadap pengungsi dan anak-anak," sambungnya tegas.
Sebelumnya, Israel memang melancarkan gelombang serangan udara ke Gaza. Korban berjatuhan: 32 orang tewas. Menurut laporan BBC, Minggu (1/2/2026), badan pertahanan sipil Hamas menyebut di antara korban ada anak-anak dan perempuan. Serangan pada Sabtu (31/1) itu menyasar tenda pengungsian di Khan Younis, Gaza selatan, dengan helikopter tempur.
Bagi warga Palestina, ini adalah serangan terberat sejak fase kedua gencatan senjata dimulai pada Oktober 2025. Fase yang seharusnya membawa ketenangan, justru diwarnai duka yang lebih dalam.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi