Pandemi COVID-19 memang sudah berlalu, tapi dampaknya pada dunia pendidikan Indonesia masih terasa. Pergeseran besar ke pembelajaran digital ternyata meninggalkan jejak yang dalam. Bayangkan saja, puluhan juta pelajar dan mahasiswa tiba-tiba harus beradaptasi dengan kelas daring. Perguruan tinggi pun ikut berubah, mengalihkan aktivitas belajar mengajar ke dunia maya.
Hingga kini, webinar, kursus online, dan pelatihan daring masih menjadi pilihan utama. Namun, kemudahan ini punya sisi gelap. Orientasi belajar pelan-pelan bergeser. Banyak yang kini lebih fokus mengumpulkan sertifikat ketimbang benar-benar memahami materinya. Proses belajar seakan direduksi jadi urusan administratif belaka sekadar mengecek daftar hadir dan menunggu file sertifikat dikirim. Padahal, esensi pendidikan kan seharusnya membentuk kompetensi dan karakter.
Menurut sejumlah saksi, fenomena ini perlahan membentuk budaya belajar yang dangkal. Beberapa studi mencatat, motivasi utama ikut webinar seringkali bukan untuk belajar, tapi justru untuk menambah koleksi sertifikat. Wajar saja kalau kemudian banyak yang cuma mendaftar, lalu menghilang saat acara berlangsung. Fokusnya sudah bergeser: dari bagaimana menguasai materi, menjadi bagaimana memastikan portofolio akademik terlihat mentereng.
Dampaknya jelas terasa. Pendidikan kehilangan makna ketika hasil dalam bentuk selembar kertas lebih dihargai daripada proses panjang di baliknya. Pola pikir instan ini bahkan mendorong perilaku tidak jujur, seperti menyontek atau menjiplak tugas. Integritas akademik pun terkikis. Padahal, di sinilah seharusnya ruang untuk membangun karakter.
Budaya ini juga menciptakan persepsi yang keliru. Tumpukan sertifikat kerap dianggap sebagai bukti kecakapan. Padahal, tidak sedikit pemiliknya yang cuma jadi ‘penonton’ pasif selama sesi berlangsung. Ironisnya, di dunia yang seharusnya mengutamakan kompetensi, dokumen-dokumen itu seringkali lebih banyak berbicara daripada kemampuan nyata seseorang.
Obsesi pada sertifikat ini punya efek samping lain: melemahkan sikap kritis. Kalau tujuannya cuma dapat sertifikat, untuk apa repot-repot bertanya atau berdebat? Akhirnya, ruang belajar yang seharusnya dinamis jadi pasif. Padahal, pendidikan idealnya adalah tempat untuk mengasah nalar dan keberanian berpikir.
Pandangan serupa pernah diungkapkan Bryan Caplan dalam bukunya, The Case Against Education.
Ia berpendapat, pendidikan modern seringkali cuma berfungsi sebagai ‘penanda’ bagi pasar kerja, bukan benar-benar meningkatkan keterampilan peserta didik.
Fenomena inflasi sertifikat yang kita lihat sekarang ini seolah memperkuat tesisnya. Permintaan akan dokumen-dokumen itu melonjak, tapi tak selalu diiringi peningkatan keterampilan yang sepadan.
Brandon Busteed juga menyoroti hal ini dalam sebuah artikel.
Ia memperingatkan bahaya dari credential over education mementingkan ijazah daripada substansi pendidikan. Kalau dibiarkan, masyarakat bisa saja hanya menghargai gelar dan sertifikat, tapi mengabaikan kemampuan berpikir kritis dan pemahaman mendalam.
Masalahnya jadi kian nyata ketika kita lihat ke dunia kerja. Data terbaru menunjukkan, jutaan generasi muda justru menganggur. Salah satu penyebab utamanya? Rendahnya soft skill seperti kemampuan komunikasi dan bekerja sama.
Ini paradoks. Di satu sisi, mereka punya segudang sertifikat. Di sisi lain, kemampuan interpersonal yang justru paling menentukan di lapangan kerja malah tertinggal. Riset global bahkan menyebut, sebagian besar kesuksesan karir justru ditentukan oleh keterampilan semacam ini.
Jadi, tantangan terbesar kita sekarang adalah bagaimana mempertahankan makna pembelajaran. Sistem pendidikan tidak boleh terjebak pada formalitas dan administrasi. Aktivitas praktik dan diskusi harus kembali menjadi jantung proses belajar, bukan sekadar kewajiban untuk dicatat.
Penilaian pun perlu diubah. Alih-alih hanya melihat kelulusan atau jumlah sertifikat, lebih baik mengevaluasi pemahaman, keterampilan praktis, dan kemampuan adaptasi peserta didik.
Sertifikat itu penting, ya. Tapi bukan segalanya. Bagi pelajar dan mahasiswa, yang jauh lebih berharga adalah proses belajarnya sendiri bagaimana pemahaman itu dibangun, bagaimana keterampilan itu diasah lewat perjuangan dan konsistensi.
Lembaga pendidikan juga punya tugas besar. Mereka harus memperkuat kualitas pembelajaran dan memastikan materi yang diajarkan relevan dengan kebutuhan nyata. Pendidikan tidak boleh berhenti di ruang administrasi.
Pada akhirnya, belajar adalah investasi jangka panjang. Sertifikat punya nilai, tapi ia tak berdiri sendiri. Kompetensi sejati lahir dari proses yang konsisten dan mendalam. Di era digital yang serba cepat dan instan ini, pendidikan justru harus jadi benteng yang membentuk nalar kritis dan daya adaptasi, tanpa tergoda untuk menggerus makna pembelajaran itu sendiri. Masa depan yang lebih berdaya dimulai dari proses belajar yang bermakna hari ini.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu