Sertifikat Menumpuk, Kompetensi Tergerus: Dampak Pandemi yang Mengubah Wajah Pendidikan

- Senin, 02 Februari 2026 | 04:06 WIB
Sertifikat Menumpuk, Kompetensi Tergerus: Dampak Pandemi yang Mengubah Wajah Pendidikan

Pandemi COVID-19 memang sudah berlalu, tapi dampaknya pada dunia pendidikan Indonesia masih terasa. Pergeseran besar ke pembelajaran digital ternyata meninggalkan jejak yang dalam. Bayangkan saja, puluhan juta pelajar dan mahasiswa tiba-tiba harus beradaptasi dengan kelas daring. Perguruan tinggi pun ikut berubah, mengalihkan aktivitas belajar mengajar ke dunia maya.

Hingga kini, webinar, kursus online, dan pelatihan daring masih menjadi pilihan utama. Namun, kemudahan ini punya sisi gelap. Orientasi belajar pelan-pelan bergeser. Banyak yang kini lebih fokus mengumpulkan sertifikat ketimbang benar-benar memahami materinya. Proses belajar seakan direduksi jadi urusan administratif belaka sekadar mengecek daftar hadir dan menunggu file sertifikat dikirim. Padahal, esensi pendidikan kan seharusnya membentuk kompetensi dan karakter.

Menurut sejumlah saksi, fenomena ini perlahan membentuk budaya belajar yang dangkal. Beberapa studi mencatat, motivasi utama ikut webinar seringkali bukan untuk belajar, tapi justru untuk menambah koleksi sertifikat. Wajar saja kalau kemudian banyak yang cuma mendaftar, lalu menghilang saat acara berlangsung. Fokusnya sudah bergeser: dari bagaimana menguasai materi, menjadi bagaimana memastikan portofolio akademik terlihat mentereng.

Dampaknya jelas terasa. Pendidikan kehilangan makna ketika hasil dalam bentuk selembar kertas lebih dihargai daripada proses panjang di baliknya. Pola pikir instan ini bahkan mendorong perilaku tidak jujur, seperti menyontek atau menjiplak tugas. Integritas akademik pun terkikis. Padahal, di sinilah seharusnya ruang untuk membangun karakter.

Budaya ini juga menciptakan persepsi yang keliru. Tumpukan sertifikat kerap dianggap sebagai bukti kecakapan. Padahal, tidak sedikit pemiliknya yang cuma jadi ‘penonton’ pasif selama sesi berlangsung. Ironisnya, di dunia yang seharusnya mengutamakan kompetensi, dokumen-dokumen itu seringkali lebih banyak berbicara daripada kemampuan nyata seseorang.

Obsesi pada sertifikat ini punya efek samping lain: melemahkan sikap kritis. Kalau tujuannya cuma dapat sertifikat, untuk apa repot-repot bertanya atau berdebat? Akhirnya, ruang belajar yang seharusnya dinamis jadi pasif. Padahal, pendidikan idealnya adalah tempat untuk mengasah nalar dan keberanian berpikir.

Pandangan serupa pernah diungkapkan Bryan Caplan dalam bukunya, The Case Against Education.

Ia berpendapat, pendidikan modern seringkali cuma berfungsi sebagai ‘penanda’ bagi pasar kerja, bukan benar-benar meningkatkan keterampilan peserta didik.

Fenomena inflasi sertifikat yang kita lihat sekarang ini seolah memperkuat tesisnya. Permintaan akan dokumen-dokumen itu melonjak, tapi tak selalu diiringi peningkatan keterampilan yang sepadan.


Halaman:

Komentar