Sertifikat Menumpuk, Kompetensi Tergerus: Dampak Pandemi yang Mengubah Wajah Pendidikan

- Senin, 02 Februari 2026 | 04:06 WIB
Sertifikat Menumpuk, Kompetensi Tergerus: Dampak Pandemi yang Mengubah Wajah Pendidikan

Brandon Busteed juga menyoroti hal ini dalam sebuah artikel.

Ia memperingatkan bahaya dari credential over education mementingkan ijazah daripada substansi pendidikan. Kalau dibiarkan, masyarakat bisa saja hanya menghargai gelar dan sertifikat, tapi mengabaikan kemampuan berpikir kritis dan pemahaman mendalam.

Masalahnya jadi kian nyata ketika kita lihat ke dunia kerja. Data terbaru menunjukkan, jutaan generasi muda justru menganggur. Salah satu penyebab utamanya? Rendahnya soft skill seperti kemampuan komunikasi dan bekerja sama.

Ini paradoks. Di satu sisi, mereka punya segudang sertifikat. Di sisi lain, kemampuan interpersonal yang justru paling menentukan di lapangan kerja malah tertinggal. Riset global bahkan menyebut, sebagian besar kesuksesan karir justru ditentukan oleh keterampilan semacam ini.

Jadi, tantangan terbesar kita sekarang adalah bagaimana mempertahankan makna pembelajaran. Sistem pendidikan tidak boleh terjebak pada formalitas dan administrasi. Aktivitas praktik dan diskusi harus kembali menjadi jantung proses belajar, bukan sekadar kewajiban untuk dicatat.

Penilaian pun perlu diubah. Alih-alih hanya melihat kelulusan atau jumlah sertifikat, lebih baik mengevaluasi pemahaman, keterampilan praktis, dan kemampuan adaptasi peserta didik.

Sertifikat itu penting, ya. Tapi bukan segalanya. Bagi pelajar dan mahasiswa, yang jauh lebih berharga adalah proses belajarnya sendiri bagaimana pemahaman itu dibangun, bagaimana keterampilan itu diasah lewat perjuangan dan konsistensi.

Lembaga pendidikan juga punya tugas besar. Mereka harus memperkuat kualitas pembelajaran dan memastikan materi yang diajarkan relevan dengan kebutuhan nyata. Pendidikan tidak boleh berhenti di ruang administrasi.

Pada akhirnya, belajar adalah investasi jangka panjang. Sertifikat punya nilai, tapi ia tak berdiri sendiri. Kompetensi sejati lahir dari proses yang konsisten dan mendalam. Di era digital yang serba cepat dan instan ini, pendidikan justru harus jadi benteng yang membentuk nalar kritis dan daya adaptasi, tanpa tergoda untuk menggerus makna pembelajaran itu sendiri. Masa depan yang lebih berdaya dimulai dari proses belajar yang bermakna hari ini.


Halaman:

Komentar