Skandal di balik tembok penjara Bangkok akhirnya memakan korban. Kepala Lembaga Pemasyarakatan Bangkok resmi dinonaktifkan dari jabatannya. Penyebabnya? Tuduhan mengistimewakan narapidana asal China dengan fasilitas yang jauh dari kesan mendekam di penjara.
Menurut sejumlah saksi, dua wanita asal China dilaporkan masuk ke Bangkok Remand Prison untuk menemui para napi tersebut. Bukan sekadar kunjungan biasa, mereka diduga menyediakan layanan seks di dalam sel. Laporan media lokal yang membeberkan hal ini pekan lalu langsung memicu badai pertanyaan. Siapa sebenarnya yang memberi izin dan membiarkan hal itu terjadi?
Menteri Kehakiman Thailand, Rutthapon Naowarat, menegaskan bahwa kasus ini sedang ditangani serius.
"Kami menindaklanjuti berdasarkan bukti yang ada terhadap pejabat yang diduga mengistimewakan narapidana-narapidana China," ujarnya.
Penggeledahan yang dilakukan Kementerian Kehakiman berhasil mengungkap sederet barang terlarang. Kondom, tembakau, hingga minuman beralkohol berhasil disita dari dalam penjara. Sungguh jauh dari gambaran sebuah lembaga pemasyarakatan.
Yang lebih mencengangkan lagi, dua wanita China itu ternyata ditemukan sedang berdua saja dengan seorang narapidana. Bukan di sembarang tempat, melainkan di sebuah sel yang katanya sedang direnovasi untuk dijadikan ruang penerimaan tamu pejabat. Ruangan itu sendiri dilengkapi dengan barang-barang mewah yang tak lazim bagi penghuni penjara. Ada meja, sofa empuk, bahkan sebuah kulkas.
Di sisi lain, penjara yang menampung lebih dari 4.000 tahanan yang menunggu persidangan ini juga menjadi tempat bagi beberapa tersangka kriminal paling tenar di Thailand. Sebut saja She Zhijiang, bos judi online Asia yang baru saja diekstradisi ke China awal bulan ini. Skandal ini membuka pertanyaan lebih dalam soal bagaimana sebenarnya tata kelola di balik jeruji besi itu berjalan.
Tak hanya sang komandan, sekretarisnya dan seorang pejabat senior lembaga pemasyarakatan setempat juga ikut merasakan imbasnya. Mereka semua dicopot dari posisinya menyusul investigasi yang masih berlangsung. Masih ada banyak titik terang yang diharapkan muncul dari kasus memalukan ini.
Artikel Terkait
Trump Tegaskan Tak Akan Cairkan Aset Iran Sebelum Ada Kesepakatan
Imigrasi Perketat Pengawasan WNA Usai Pengungkapan Kasus Love Scamming di Semarang
Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin Tembus Final Perdana Indonesia Open 2026, Bukti Nyata Regenerasi Bulu Tangkis Indonesia
Pemprov DKI Akan Naikkan Tarif Transjabodetabek dan Bus Bandara Soekarno-Hatta, Subsidi APBD Dinilai Terlalu Tinggi