Harga Emas Dunia Terkoreksi, Dipicu Penguatan Dolar dan Aksi Ambil Untung

- Rabu, 25 Februari 2026 | 07:01 WIB
Harga Emas Dunia Terkoreksi, Dipicu Penguatan Dolar dan Aksi Ambil Untung

Harga emas dunia akhirnya terkoreksi pada Selasa kemarin. Setelah sempat melesat ke level tertinggi dalam tiga pekan, logam mulia itu ambles, dipicu aksi ambil untung dan dolar AS yang menguat. Hal itu membuat emas jadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain.

Di pasar spot, emas tercatat turun cukup signifikan, 1,59 persen, ke posisi USD5.143,92 per troy ons. Sementara itu, indeks dolar AS sendiri naik tipis 0,1 persen.

Menurut sejumlah saksi, koreksi ini tak perlu dikhawatirkan berlebihan. "Harga emas sebelumnya kembali berada dalam tren naik, jadi saya menduga ini hanya koreksi sementara," kata Jim Wyckoff, Analis Senior Kitco Metals.

Ia menambahkan, penguatan dolar juga memberi pengaruh negatif terhadap harga.

Padahal, awal sesi sempat memberi harapan. Harga sempat menyentuh level tertinggi tiga pekan itu setelah Presiden AS Donald Trump berjanji menaikkan bea masuk menjadi 15 persen. Janji itu muncul menyusul putusan Mahkamah Agung yang menyatakan penggunaan undang-undang darurat untuk memberlakukan tarif melampaui kewenangannya.

Namun begitu, realitanya pada Selasa AS tetap memungut tarif 10 persen untuk seluruh barang yang tidak dikecualikan. Kebijakan ini sesuai dengan pengumuman pertama Trump pada Jumat lalu.

Pelaku pasar pun tampaknya masih menunggu. Mereka mengamati dua hal: kejelasan rencana tarif AS yang berlarut-larut dan hasil perundingan antara Washington dan Teheran.

Nah, soal Iran dan AS ini, keduanya dijadwalkan menggelar putaran ketiga perundingan nuklir pada Kamis di Jenewa. Jadwal ini muncul di tengah kekhawatiran yang makin menjadi-jadi soal risiko konflik militer antara kedua negara yang sudah lama bermusuhan itu.

"Permintaan aset safe haven masih solid," jelas Wyckoff lagi. Ia melihat ketegangan Iran-AS dan ketidakpastian tarif membatasi tekanan jual emas, sehingga fundamental tetap suportif. "Tapi, ketika harga mendekati rekor tertinggi, akan muncul area resistance kuat. Untuk menembus level baru, kemungkinan dibutuhkan katalis geopolitik yang segar," tambahnya.

Memang, sebagai aset lindung nilai tradisional, emas selalu diuntungkan dalam periode ketidakpastian. Baik itu ketidakpastian geopolitik seperti sekarang, maupun gejolak ekonomi.

Di sisi lain, dari dalam negeri AS sendiri ada sinyal lain. Raphael Bostic, Presiden Federal Reserve Atlanta yang akan lengser, memberi pernyataan menarik. Ia mengatakan kepada Reuters bahwa AS mungkin memasuki fase pengangguran yang secara struktural lebih tinggi. Penyebabnya? Perusahaan-perusahaan mulai mengadopsi kecerdasan buatan untuk memangkas tenaga kerja.

Pergeseran struktural semacam ini, kata Bostic, akan sulit diimbangi oleh The Fed hanya dengan memainkan kunci suku bunga. Sebuah peringatan yang turut menambah nuansa ketidakpastian di pasar.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar