Menganggur = Tidak Bertauhid? Analisis Ekonomi dan Agama
Oleh: Arsyad Syahrial
Pernyataan yang mengaitkan pengangguran dengan lemahnya tauhid merupakan penyederhanaan berlebihan terhadap masalah ekonomi yang kompleks. Dalam ilmu ekonomi, pengangguran adalah fenomena multidimensi yang bahkan memiliki cabang kajian khusus di Fakultas Ekonomi dan ditangani oleh Kementerian Tenaga Kerja secara khusus.
Realitas pengangguran tidak dapat dipisahkan dari tiga pelaku pasar utama:
1. Faktor Individu
Meskipun ada yang menganggur karena malas, proporsinya kecil. Mayoritas pengangguran disebabkan oleh ketidakcocokan keterampilan (skill mismatch) antara yang dimiliki pencari kerja dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.
2. Faktor Dunia Usaha
Perusahaan sering tidak melakukan rekrutmen akibat iklim perekonomian yang lesu dan investasi yang tersendat, sehingga lapangan kerja tidak tercipta.
3. Faktor Pemerintah
Kebijakan perpajakan yang rumit, tarif pajak tinggi, korupsi, dan ketidakstabilan keamanan turut menghambat pertumbuhan lapangan kerja.
Mengatakan pengangguran disebabkan lemahnya tauhid justru menunjukkan pemahaman yang lemah tentang ekonomi dan agama itu sendiri. Penyelesaian pengangguran memerlukan kebijakan ekonomi yang tepat dan reformasi sistem, bukan sekadar ceramah agama.
Pemahaman tauhid yang benar tidak bertentangan dengan rasionalitas dalam menyelesaikan masalah sosial-ekonomi seperti pengangguran. Solusi yang efektif harus menyentuh akar permasalahan di semua level - individu, bisnis, dan kebijakan pemerintah.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Titip Pesan ke Jemaah Haji: Semoga Pulang Jadi Haji Mabrur
Polisi Bekuk Suami di Mojokerto yang Aniaya Istri dan Mertua hingga Tewas, Pelaku Ditangkap di Surabaya
Anies Baswedan: Guru yang Beri Inspirasi dan Nilai Tak Tergantikan oleh AI
Pemkot Brebes Ancam Pecat ASN yang Bolos 12 Hari Tanpa Keterangan