Perbandingan Gaya Kepemimpinan: Purbaya, Dedi Mulyadi, dan Jokowi
Ditulis oleh: Erizal, Direktur ABC Riset & Consulting
Dedi Mulyadi dan Fenomena Perbandingan dengan Jokowi
Purbaya Yudhi Sadewa terbilang beruntung karena tidak disamakan dengan Joko Widodo (Jokowi), berbeda dengan nasib yang dialami Dedi Mulyadi. Dedi Mulyadi, yang tengah naik daun dan populer, sering disebut sebagai "Mulyono Jilid II" oleh banyak kalangan, termasuk Rocky Gerung. Mulyono Jilid I tak lain adalah Jokowi sendiri. Persamaan ini justru berpotensi merugikan Dedi Mulyadi.
Dinamika kritik terhadap Jokowi telah mengalami pergeseran signifikan. Dulu, kritik terhadap Jokowi sering dianggap salah, terlepas dari kebenarannya. Kini, situasinya terbalik; siapa pun yang mengkritik Jokowi dianggap benar, meskipun kritik tersebut keliru. Dalam konteks ini, disamakan dengan Jokowi justru menjadi bumerang bagi Dedi Mulyadi, yang bisa dianggap sebagai pencitraan belaka, meski mungkin niatnya tulus.
Esemka dan Persepsi Publik yang Berubah
Dulu, proyek mobil Esemka yang diusung Jokowi mudah dipercaya banyak orang. Kini, kepercayaan itu memudar; bahkan keaslian ijazahnya dipertanyakan, meski telah diverifikasi oleh UGM dan Bareskrim melalui uji forensik. Persepsi publik terhadap figur politik memang bisa berubah drastis.
Banyak kepala daerah pernah meniru gaya blusukan Jokowi, namun tidak semuanya berhasil. Gaya blusukan Jokowi kerap disertai dengan penyaluran bantuan sosial (bansos), bukan sekadar kunjungan tanpa tindakan nyata.
Perbedaan Karakter yang Mencolok
Secara personal, Dedi Mulyadi dan Jokowi memiliki karakter yang berbeda. Dedi Mulyadi adalah orator ulung dengan jawaban yang panjang lebar, sementara Jokowi dikenal dengan jawaban yang singkat, bahkan terkadang tidak dijawab sama sekali. Pendukung Dedi Mulyadi tampak tidak nyaman dengan perbandingan ini, sementara pendukung Jokowi mungkin melihatnya sebagai upaya menjaga relevansi.
Strategi Politik dan Kedekatan dengan Tokoh Populer
Pengalaman Jokowi memenangkan Pilpres tiga kali, serta jabatan Gubernur dan Wali Kota, memberinya pemahaman mendalam tentang tokoh-tokoh yang sedang populer. Pendekatan terhadap tokoh seperti Dedi Mulyadi dan Purbaya dianggap lebih menguntungkan daripada menjauhi atau melawan mereka. Hal ini terlihat dari sikap Gibran Rakabuming Raka yang mendekatkan diri kepada Dedi Mulyadi dan memberikan dukungan terhadap gaya ceplas-ceplos Purbaya.
Purbaya: Gaya Kepemimpinan yang Berbeda
Purbaya beruntung tidak disamakan dengan Jokowi. Karakternya justru lebih mirip dengan Prabowo Subianto: ceplas-ceplos, apa adanya, dan tanpa tedeng aling-aling. Apa yang dirasakan di hati, itulah yang diucapkan. Gaya ini membuat Purbaya lebih mudah ditafsirkan dan dipahami publik.
Berbeda dengan Jokowi dan Dedi Mulyadi yang memiliki relawan dan buzzer, Purbaya tampil tanpa dukungan semacam itu. Saat diserang, ia membalas langsung tanpa memedulikan persepsi publik. Ia juga dengan enteng menolak bergabung dengan partai politik, memilih fokus pada tugas yang diberikan Presiden.
Kelebihan dan Tantangan Gaya Purbaya
Keunggulan Purbaya terletak pada kemampuannya menjelaskan hal rumit menjadi sederhana, sehingga mudah dipahami masyarakat. Ini adalah permainan otak yang membutuhkan kecerdasan, bukan sekadar politik simbolis atau gestur tubuh. Namun, kelemahannya, publik bisa menuntut lebih dari yang ia katakan. Di sisi lain, hal ini justru menunjukkan bahwa ia bekerja tanpa agenda tersembunyi.
Gaya kepemimpinan Purbaya sangat kontras dengan Jokowi dan Dedi Mulyadi. Jika Jokowi dan Dedi Mulyadi mungkin tidak banyak dituntut di awal, namun terbukti mengambil lebih banyak di akhir, Purbaya justru sebaliknya. Ia menetapkan standar tinggi sejak awal dan berusaha memenuhinya.
Dengan fokus pada pekerjaan dan penolakannya terhadap politik praktis, Purbaya menawarkan gaya kepemimpinan yang segar dan transparan. Namun, hanya waktu yang akan membuktikan konsistensinya di masa depan.
Artikel Terkait
BMKG: Sebagian Besar Wilayah Sulsel Berpotensi Hujan Sedang pada Kamis
Mahfud MD Ungkap Sembilan Masalah Kultur Polri, dari Kekerasan hingga Impunitas
Polda Riau Bongkar Perusakan Hutan Mangrove di Kepulauan Meranti, Sita Ribuan Karung Arang Bakau Ilegal
Arus Balik Penduduk: Makassar Alami Migrasi Keluar Tertinggi, Gowa dan Maros Jadi Tujuan Utama