Kisah Pilu Haji Agus Salim: Diplomat Jenius yang Tak Mampu Beli Kain Kafan untuk Anaknya

- Jumat, 24 Oktober 2025 | 06:20 WIB
Kisah Pilu Haji Agus Salim: Diplomat Jenius yang Tak Mampu Beli Kain Kafan untuk Anaknya

Sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia periode 1947-1948, Haji Agus Salim memimpin delegasi ke Timur Tengah dan berhasil memperoleh pengakuan kedaulatan dari Mesir (10 Juni 1947), Lebanon (29 Juni 1947), dan Suriah (2 Juli 1947).

Ini merupakan pengakuan de jure pertama dari masyarakat internasional bagi Republik Indonesia sebagai negara merdeka dan berdaulat, yang sangat bernilai mengingat saat itu Indonesia terikat Perjanjian Linggarjati yang membatasi wilayahnya.

Kepiawaian Bahasa dan Pengakuan Internasional

Kemampuan linguistik Haji Agus Salim sangat diakui, termasuk oleh Perdana Menteri Belanda Willem Schermerhorn yang menyatakan: "Orang tua yang sangat pintar ini seorang jenius dalam bidang bahasa, bicara, dan menulis dengan sempurna, paling sedikit sembilan bahasa."

Gaya Hidup Sederhana dan Prinsip Hidup

Meski menjabat posisi penting, Haji Agus Salim memilih hidup sederhana. Jas yang dikenakannya dalam acara resmi sering terlihat kumal dan topinya bukan barang baru. Sepanjang hidupnya, beliau tidak pernah memiliki rumah sendiri dan selalu tinggal di rumah kontrakan.

Kisah Mengharukan Kain Kafan dari Taplak Meja

Ketika salah satu anaknya yang masih bayi meninggal dunia, Haji Agus Salim tidak mampu membeli kain kafan. Dengan tenang, beliau mengambil taplak meja dan kain kelambu bekas untuk membungkus jenazah anaknya, menolak bantuan finansial dengan berkata: "Simpan saja uang itu untuk yang masih hidup dan memerlukan."

Warisan Nilai Kesederhanaan

Kesederhanaan ini dijaganya sampai akhir hayat pada 4 November 1954. Pemerintah kemudian memakamkannya di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara kenegaraan, mengakhiri perjalanan hidup seorang pahlawan nasional yang meninggalkan teladan kesederhanaan dan pengabdian tanpa pamrih bagi bangsa Indonesia.


Halaman:

Komentar