Stroke masih jadi momok besar di Indonesia. Bukan cuma soal angka kematian yang tinggi, tapi juga disabilitas jangka panjang yang mengikutinya. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi nasionalnya mencapai 8,3 per 1.000 penduduk. Angka yang tidak bisa dianggap enteng. Nah, di luar fase darurat penyelamatan nyawa, ada tantangan lain yang tak kalah rumit: bagaimana meminimalkan kerusakan saraf yang berlanjut akibat gangguan pasokan oksigen dan krisis metabolik di dalam sel, yang terjadi begitu serangan datang.
Pada fase ini, sel-sel otak berada dalam kondisi super rentan. Produksi energi yang kacau bisa mempercepat kematian sel, dan ujung-ujungnya memperburuk kondisi pasien dalam jangka panjang. Makanya, penanganan di fase awal itu krusial banget.
Melihat kebutuhan itu, PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) kemudian menghadirkan Cytoflavin. Ini adalah terapi neuroprotektor yang dirancang khusus buat mendukung metabolisme dan respirasi seluler pada pasien stroke. Dalam kondisi iskemik di mana aliran darah ke otak tersumbat fungsi mitokondria jadi kacau dan produksi energi menurun drastis. Itulah pemicu utama cedera jaringan otak yang makin parah.
Cara kerja Cytoflavin? Kurang lebih begini: obat ini membantu efisiensi pemanfaatan oksigen dan mengoptimalkan pembentukan energi di tingkat sel. Dengan begitu, jaringan otak bisa bertahan selama fase kritis hingga masa pemulihan awal. Buat para klinisi, ini alat bantu yang memungkinkan mereka mengelola pasien secara lebih menyeluruh.
Pendekatan yang mengandalkan dukungan metabolik ini makin relevan, apalagi mengingat tingginya angka disabilitas pasca-stroke. Dampaknya nggak cuma ke kualitas hidup pasien, tapi juga ke beban biaya kesehatan negara. Intervensi yang tepat di fase akut dan subakut punya peran strategis dalam menentukan prognosis ke depannya. Jadi, terapi yang bisa menjaga stabilitas seluler jadi bagian penting dalam praktik klinis sehari-hari di rumah sakit.
Sepanjang 2025, PYFA aktif banget. Mereka terlibat dalam lebih dari 30 forum dan seminar ilmiah neurologi di berbagai kota besar Indonesia. Ini bagian dari komitmen mereka buat terus mengedukasi tenaga medis. Respons dari komunitas klinisi? Positif. Terlihat dari adopsi Cytoflavin yang kini sudah dipakai di lebih dari 304 rumah sakit di seluruh Indonesia, termasuk pusat layanan stroke dan rumah sakit rujukan.
Pengakuan juga datang langsung dari kalangan medis tanah air. Dokter spesialis neurologi RSUP Nasional Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM), Mohammad Kurniawan, sempat melihat langsung proses produksi Cytoflavin di Rusia. Ia mengaku terkesan.
“Melihat langsung proses pembuatan dan teknologi mutakhir Cytoflavin di Rusia membuat saya kagum. Standar yang mereka terapkan sangat baik dalam memastikan efisiensi produksi dan efikasi produk farmakologi. Inovasi farmasi dengan presisi seperti inilah yang dibutuhkan untuk memberikan dukungan terbaik bagi pasien yang memerlukan tatalaksana intensif seperti stroke di fase akut,” ujar Kurniawan, Sabtu (25/4/2026).
Sementara itu, Direktur PYFA, Antes Eko Prasetyo, menyoroti pergeseran tren serangan stroke ke usia produktif di bawah 40 tahun. Menurutnya, ini jadi urgensi tersendiri bagi PYFA untuk menghadirkan inovasi terapi standar global. Cytoflavin, yang kini sudah dipercaya lebih dari 300 rumah sakit di Indonesia sebagai terapi saraf pilihan, adalah bukti nyata dari komitmen itu.
“Kami berkomitmen terus menghadirkan solusi kesehatan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan rumah sakit saat ini. Melalui distribusi Cytoflavin, kami ingin memastikan para tenaga kesehatan di Indonesia memiliki akses terhadap opsi terapi yang tepat untuk mendukung proses pemulihan pasien stroke secara optimal,” katanya.
Artikel Terkait
Polisi Bongkar Penimbunan 1.575 Liter Pertalite di Probolinggo, Tujuh Tersangka Diamankan
ASDP Alihkan Operasional Penyeberangan Pelabuhan Bajoe Selama Pembangunan Dermaga
Celtics Kalahkan 76ers 108-100 di Game 3, Unggul 2-1 Berkat Duet Tatum-Brown
Real Madrid Gagal Amankan Tiga Poin, Imbang 1-1 Lawan Real Betis Usai Gol Telat Bellerín