“Melalui hilirisasi, produk kita bisa naik kelas dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi di pasar internasional,” tegas Daeng Manye.
Selain pengolahan hasil laut, penerapan sistem pertanian modern dan pengembangan energi terbarukan juga masuk dalam radar. Bahkan, wacana pengembangan kawasan industri terpadu berbasis pesisir ikut dibahas sebagai bagian dari penyiapan ekosistem investasi yang komprehensif.
Di sisi lain, respons dari KBRI Beijing cukup positif. Anindityo Adi Primasto, perwakilan KBRI, menyambut baik inisiatif Pemerintah Kabupaten Takalar ini. Ia menyatakan kesiapan pihaknya untuk menjadi jembatan komunikasi dengan calon investor di China.
Namun begitu, ada beberapa catatan penting yang diberikan. Investor tentu butuh kepastian. Proposal yang kompetitif, regulasi yang jelas, dan infrastruktur yang siap adalah faktor penentu utama. Tanpa itu, minat investor bisa saja menguap.
Kunjungan ini jelas bukan sekadar seremonial. Ia adalah langkah konkret pertama Takalar untuk memperluas jejaringnya di panggung global. Bahkan, peluang untuk terlibat dalam skema besar seperti Belt and Road Initiative pun kini terbuka lebar. Masa depan kolaborasi internasional mereka, nampaknya, baru saja dimulai.
Artikel Terkait
Pemerintah Buka Rekrutmen 30 Ribu Manajer Koperasi Desa Berstatus Pegawai BUMN
Pemprov Sulsel Godok Mutasi 314 Guru untuk Atasi Ketimpangan Distribusi
Bentrokan di Pemakaman Tolikara Tewaskan Satu Warga, Empat Polisi Terluka
Damkar Makassar Aktifkan Tujuh Posko Siaga Antisipasi Kebakaran dan Kekeringan