Di tengah riuh Munas PB IPSI ke-16 di JCC Senayan, Sabtu lalu, Presiden Prabowo Subianto membuat pengumuman yang cukup mengejutkan. Ia memutuskan untuk mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum. Padahal, namanya masih terus didorong untuk memimpin lagi periode 2026-2030. Tapi, pria berusia 74 tahun itu bersikukuh. Ia memilih menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan IPSI kepada yang lain.
Fokus utama pertemuan nasional itu sebenarnya dua: menyusun road map agar pencak silat bisa segera berlaga di Olimpiade, dan tentu saja, memilih nakhoda baru. Namun, keputusan Prabowo untuk mundur jelas menjadi perhatian utama para peserta yang hadir.
Usai menyampaikan keputusannya, Prabowo lalu berbagi cerita. Suasana jadi lebih santai. Ia bercerita soal ikatan keluarganya yang sangat dalam dengan dunia persilatan.
“Saya ingin sedikit nostalgia,” ujarnya memulai.
“Kakek saya salah satu penggemar dan pendiri perguruan 'Setia Hati' di Madiun, itu tahun sebelum kemerdekaan. Beliau latihan sampai lanjut usia di ruangannya, pernapasan dan sebagainya.”
“Kemudian orangtua saya juga salah satu pembina Pengurus Besar IPSI, cukup lama. Jadi bagi saya, pencak silat ini semacam panggilan sebagai anak bangsa,” sambung Presiden.
Lingkungan keluarga itu rupanya sangat berguna di kemudian hari. Saat berkarier di militer, kemampuan bela dirinya langsung terasah. Di Akademi Militer dulu, para taruna memang diwajibkan belajar berbagai jenis bela diri.
Artikel Terkait
Prabowo Tegaskan Pencak Silat Sebagai Cermin Jati Diri dan Ilmu Kesatria
Tim SAR Kerahkan Drone Thermal Cari Remaja 14 Tahun yang Hilang di Hutan Mamuju
Arsenal Tersungkur di Kandang Sendiri, Bournemouth Menang 2-1
Ayah di Cianjur Ditahan Diduga Cabuli Anak Kandung Usia 10 Tahun