“Ini butuh keberanian, perencanaan, dan kemungkinan akses pada kemampuan intelijen. Tidak mungkin sekadar dendam pribadi,” jelasnya.
Nah, di sinilah persoalan sesungguhnya. Dalam banyak kasus serupa, pelaku di lapangan seringkali cuma ujung tombak. Mereka yang merancang, yang memberi perintah, biasanya tetap bersembunyi dalam bayang-bayang. Usman pun mengingatkan, keberhasilan mengungkap kasus ini tidak boleh berhenti pada penangkapan si penyiram.
“Kalau hanya pelaku lapangan yang dihukum, kejahatan seperti ini akan terus berulang,” katanya.
Ingat saja kasus Munir. Pembunuhan terhadap aktivis HAM itu hingga kini masih gelap, aktor intelektualnya belum tersentuh hukum. Kita tidak boleh mengulangi kegagalan yang sama.
Serangan terhadap Andrie Yunus ini bahkan sudah menyita perhatian dunia. Pejabat HAM PBB, misalnya, telah mengecam dan mendesak pemerintah Indonesia untuk melakukan investigasi yang serius dan menyeluruh. Di tengah tekanan dan kekhawatiran itu, Usman justru mengajak untuk tidak takut.
“Kebebasan itu seperti air. Dibendung sekuat apa pun, dia akan mencari jalan,” ucapnya, penuh keyakinan.
Ajakan untuk bersolidaritas pun diserukan. Kepada sesama aktivis, mahasiswa, akademisi, hingga masyarakat biasa. Mari kawal kasus ini sampai tuntas. Jangan biarkan rasa takut yang menang.
Artikel Terkait
Tripolar Golkar, Nasdem, dan Gerindra Kuasai Peta Politik Sulawesi Selatan
Prabowo Saksikan Penyerahan Rp11,4 Triliun dan Reklamasi Lahan ke Negara
Unhas dan KLHK Jalin Kerja Sama Hadapi Perubahan Iklim
PSIM Yogyakarta Hadapi PSM Makassar di Stadion Sultan Agung, Susunan Pemain Kedua Tim Diumumkan