Penyiraman air keras yang menimpa Andrie Yunus, aktivis KontraS, bukan cuma soal kriminalitas biasa. Banyak yang melihatnya sebagai sebuah pola. Usman Hamid, Direktur Amnesty International Indonesia, dengan tegas menyatakan serangan ini berbau aksi terencana. Dan menurutnya, situasi politik nasional saat ini tak bisa diabaikan sebagai konteks.
“Ini bukan peristiwa spontan,” tegas Usman pada Jumat lalu.
“Ada perencanaan, ada pengintaian, bahkan kemungkinan melibatkan kemampuan operasional tertentu.”
Pernyataannya itu bukan tanpa alasan. Polisi sendiri mengungkap fakta bahwa korban sempat dibuntuti sebelum penyerangan terjadi. Pelaku juga punya target jelas: menyerang, lalu kabur, tanpa bermaksud merampas harta benda korban. Pola ini, bagi Usman, terasa sangat mirip dengan kasus-kasus kekerasan terhadap aktivis di masa lalu, termasuk yang dialami penyidik KPK Novel Baswedan. Seolah, ruang untuk melukai suara-suara kritis itu kembali terbuka lebar.
Di sisi lain, ada fenomena yang menguat belakangan ini: narasi negatif terhadap mereka yang kritis. Aktivis, akademisi, atau siapa pun yang bersuara lantang kerap dengan mudah dicap sebagai “antek asing” atau dianggap tidak patriotik. Usman tak menampik bahwa pernyataan-pernyataan publik dari petinggi negara, seperti ketika Presiden Prabowo Subianto menyebut kritik perlu “ditertibkan”, turut mempengaruhi iklim ini.
“Kalau kritik dianggap ancaman, maka ruang demokrasi menyempit. Ini berbahaya,” ujarnya.
Lalu, apa motif di baliknya? Usman meragukan ini sekadar urusan dendam pribadi. Rasanya terlalu kecil. Ia lebih menduga adanya operasi yang sistematis di balik layar.
Artikel Terkait
Tripolar Golkar, Nasdem, dan Gerindra Kuasai Peta Politik Sulawesi Selatan
Prabowo Saksikan Penyerahan Rp11,4 Triliun dan Reklamasi Lahan ke Negara
Unhas dan KLHK Jalin Kerja Sama Hadapi Perubahan Iklim
PSIM Yogyakarta Hadapi PSM Makassar di Stadion Sultan Agung, Susunan Pemain Kedua Tim Diumumkan