Keesokan paginya, sekitar pukul 07.30, tragedi itu akhirnya terbuka. Aisyah, putri Hendi yang baru berusia 10 tahun, hendak mengambil handphone. Melalui jendela, gadis kecil itu melihat ayahnya tergantung. Pintu rumah tertutup rapat, bahkan terganjal kursi dari dalam.
Dengan panik, Aisyah melaporkan hal ini kepada Hasan. Bersama ibu Aisyah, mereka bergegas ke rumah untuk memastikan. Yang mereka temukan adalah Hendi yang sudah tak bernyawa, dengan sarung terlilit kencang pada rangka atap.
Keluarga kemudian memutuskan untuk menurunkan jenazah sekitar pukul sembilan pagi, dengan memotong sarung di leher almarhum. Polisi dari Polsek Wara Selatan tiba seperempat jam kemudian, lalu berkoordinasi dengan Polres Palopo. Tim INAFIS pun turun tangan melakukan olah TKP.
Kapolsek Wara Selatan, IPTU Yusran Sa’buran, membenarkan peristiwa ini. Ia menyebut keluarga memilih untuk tidak melakukan autopsi.
"Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh almarhum. Pihak keluarga telah membuat surat pernyataan penolakan autopsi dan menyatakan tidak keberatan atas meninggalnya almarhum," jelas Yusran.
Di akhir pernyataannya, dia mengimbau masyarakat agar lebih peka dan peduli pada kondisi keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Setelah semua proses pemeriksaan selesai, jenazah Hendi pun diserahkan kepada keluarganya untuk dimakamkan sesuai tradisi.
Artikel Terkait
Harga Emas Pegadaian Anjlok, Galeri24 dan UBS Turun Signifikan
Dua Rumah Hangus Terbakar di Barru, Diduga Akibat Korsleting Listrik
Polres Bone Gelar Serah Terima Jabatan untuk Sejumlah Pejabat Kunci
Mobil Terperosok Jurang 200 Meter di Enrekang, Satu Tewas