Bentuknya macam-macam. Ada video, ada juga audio yang suaranya mirip sekali dengan dirinya. Yang lucu, dia bilang suaranya jelek dan tak bisa nyanyi. Tapi di YouTube, ada konten yang menampilkan "Prabowo" menyanyi dengan suara yang bagus sekali. "Saya kaget, boleh juga nih," candanya.
Tapi tak semua manipulasi itu bersifat menghibur. Ada yang lebih aneh lagi.
"Ada lagi saya pidato dalam bahasa Mandarin. Ada lagi saya pidato dalam bahasa Arab," katanya sambil bercerita.
Menariknya, Presiden mengaku sempat membiarkan konten manipulasi itu beredar. Syaratnya sederhana: kalau dinilai menguntungkan. Saat kampanye dulu, misalnya, ada konten yang justru menguntungkan di daerah tertentu. "Karena waktu itu kampanye, saya kira di daerah tapal kuda menguntungkan ini jadi saya diem juga. Kalau menguntungkan kita diam," pungkasnya.
Cerita ini disampaikannya dalam taklimat kepada seluruh jajaran kabinet, eselon I, dan direktur BUMN. Intinya jelas: di era informasi ini, waspada itu perlu. Bahkan bagi seorang presiden sekalipun.
Artikel Terkait
Roti Maros, Camilan Manis Khas Sulawesi Selatan dengan Isian Selai Srikaya
Menteri Pertanian Soroti Rembesan Gula Rafinasi yang Rugikan Petani dan BUMN
Warga Makassar Tertipu Rp12 Juta dalam Penawaran Tukar Uang Baru di Facebook
Juru Parkir Diamankan Usai Pengeroyokan di Makassar Bermula dari Sengketa Karcis